Gru

Gru berkata, hanya pantai yang mengerti bagaimana rasanya terus-menerus menunggu, dihampiri, lalu ditinggalkan. Ia mengucapkan kalimat itu tanpa menoleh kepadaku, melainkan menatap sesuatu yang sangat jauh di ujung lautan. Ia menggenggam tanganku, mengalirkan rasa hangat ke jari-jari, telapak, lengan, hingga dadaku.

Aku tahu kehangatan itu tak akan berlangsung lama. Yang tak kutahu, genggaman itu ternyata benar-benar genggaman terakhir Gru.

[Metafora Padma, Bernard Batubara]

Buku Bernard Batubara pertama yang saya baca. Baru sampai di halaman 48. Sudah pasti akan dihabiskan hari ini juga.

“Gagasan besar dalam cerita-cerita pendek di buku Metafora Padma saya tulis setelah mengobrol panjang dengan sahabat masa kecil tentang kekerasan horisontal antaretnis dan antaragama.” tulis Bara di blognya.

Pantas saja buku kumpulan cerita pendek ini meninggalkan kesan kelam.

Baca juga ini dan itu.

Advertisements

One response to “Gru

  1. Pingback: Sepenggal dongeng bulan merah | Ariesusduabelas//·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s