“Di luar itu pasir. Di luar itu debu.”

Ketika tunas ini tumbuh serupa tubuh yang mengakar. Setiap napas yang terhembus adalah kata. Angan, debur, dan emosi bersatu dalam jubah berpautan. Tangan kita terikat. Lidah kita menyatu. Maka setiap apa yang terucap adalah sabda pandhita ratu. Di luar itu pasir. Di luar itu debu. Hanya angin meniup lalu terbang hilang tak ada. Tapi kita tetap menari. Menari cuma kita yang tahu.

Jiwa ini tandu, maka duduk saja. Maka akan kita bawa, semua, karena kita adalah satu.

Puisi ini betul-betul indah.

Instagram.

Advertisements