Mengingat program Fullday School gagasan Muhadjir Effendy

Anda ingat dengan wacana sistem sekolah sehari penuh (fullday school) yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy? Awalnya, program ini digalakkan sebagai upaya menanamkan pendidikan karakter di sekolah. Tapi, wacana tersebut lambat laun menguap karena respon negatif dari masyarakat Indonesia pada umumnya.

Tri Pujiati, alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, memberi pandangannya terhadap wacana sistem sekolah sehari penuh.

“Jika ditelisik secara mendalam, program sekolah sehari penuh justru memupuk lahirnya beban mental dunia pendidikan.”

“Pertama, menambah beban mental peserta didik. Waktu belajar yang terlalu panjang justru memupuk beban mental peserta didik. Bagaimana tidak, program sekolah sehari penuh tentunya akan merenggut waktu bermain anak-anak.”

“Kedua, beban mental sekolah. Program sekolah sehari penuh tentunya menambah pekerjaan rumah kepala sekolah dan guru. Mau tidak mau guru harus berpikir lebih keras untuk menambah materi pelajaran hingga sehari penuh. Terkait dengan hal tersebut guru dituntut untuk menghidupkan suasana belajar lebih inovatif, kreatif, dan kondusif. Metode dan strategi belajar harus dirancang secara matang untuk mengisi program sekolah sehari penuh.”

“Membangun relasi orang tua dan pihak sekolah untun bersinergi memantau perilaku anak-anaklah yang seharusnya dipertajam lagi. Kebijakan gegabah hanya akan mencederai hakikat pendidikan itu sendiri.”

Advertisements