Humor artifisial

Jika orang Melayu kaya cukuplah untuk sekali ke Tanah Suci. Umpama miskin, selalu merasa dirinya beruntung. Maka tak pernah ada yang melarat. Jika baik, tanggung, jika jahat, tak kan lebih dari bromocorah pencuri setandan pisang, itu pun pisang mentah. Jika pintar jadi carik desa, jika bodoh bahkan tak bisa membedakan huruf B dan M. Tak tahu kalau Purwakarta dan Purwokerto itu berbeda.

Komedi orang Melayu Dalam bersifat artifisal dan politikal. Karena itu, salah satu bentuk klasik humor mereka adalah membual.

Mereka senang sekali membualkan bahwa semua orang penting dikenalnya, semua artis sobatnya, bahwa menteri A itu kerabatnya. Padahal, hanya karena ia bertetangga dengan ipar menteri itu dan ayam mereka pernah ketahuan kawin. Sang menteri sendiri tak mengaku iparnya yang berengsek itu sebagai saudara. Harapan si pembual tentu saja agar ia disegani karena banyak mengenal pejabat. Inilah yang kumaksud sebagai humor artifisial-humor palsu-dan humor politikal.

[Andrea Hirata, ‘Maryamah Karpov’]

Advertisements