Menilai

Namun tak dapat dipungkiri, dari lingkungan sosial semacam itu, aki telah belajar banyak sekali, antara lain belajar toleransi. Di Eropa, untuk kali pertama aku mendapati diriku terpojok di sudut peradaban sebagai minoritas dan sungguh pahit keadaan ini. Sepanjang hidup di Tanah Air, demografiku adalah representasi mayoritas. Aku seorang Islam, maka aku mayotitas. Keluargaku miskin, karena itu aku juga mayoritas. Aku mayoritas karena begitu banyak hal, misalnya aku orang Indonesia asli, berbadan pendek, hetero, sering ditipu politisi, menyenangi lagu dangdut, dan berwajah orang kebanyakan. Dengan mentalitas semacam itulah aku dibesarkan. Namun di Eropa, aku terkejut melihat cara orang melihatku, lalu mereka memandangku, dan yang mereka pandang adalah asal muasalku, caraku berbicara, apa yang kumakan, apa yang kusembah, dan apa yang seolah akan kuambil dari mereka. Seluruh pandangan padaku untuk satu tujuan: menilaiku.

[Andrea Hirata, ‘Maryamah Karpov’]

Advertisements