Berapa persen keuntungan produsen rokok?

Keberadaan rokok telah menjadi pegangan banyak pihak agar bisa hidup, mulai dari petani tembakau, buruh rokok, hingga toko kelontong. Belum lagi usaha lain yang bergerak karena tembakau, seperti iklan, jasa transportasi barang, pedagang kaki lima, dan sektor informal yang menopang ekonomi Indonesia saat krisis. Penulis pernah menghitung orang yang bekerja dalam rangkaian produksi tembakau, industri kretek, cengkih, dan perdagangannya bisa menyerap 30 – 35 juta tenaga kerja.

Perlu diketahui, selama ini pemerintah sudah memungut banyak biaya dari penjualan rokok. Saking banyak pungutan, asosiasi produsen mengklaim hanya memperoleh sedikit keuntungan. Lihat saja, beban cukai dan pajak 71,4%. Adapun cukai hasil tembakau maksimal 57%. Belum lagi pajak daerah 10% dari nilai cukai atau maksimal 5,7%. Ada pula pajak pertambahan nilai 8,7%. Adapun biaya produksi mulai dari bahan baku, biaya tenaga kerja, listrik, dan biaya-biaya lain menelan ongkos hingga 19,6% – 23,6%. Keuntungan perusahaan hanya 5% – 9%.

[Abdul Kadir Karding, anggota DPR]

Advertisements