Tanya Castro kepada Soekarno

​”Tuan Sukarno, negara ini memiliki semangat tersendiri dalam mewujudkan perubahan, kami berdiri disini sendirian dikelilingi negara-negara perkebunan tinggalan Spanyol dan Portugal, kami juga berdekatan dengan rajanya Kapitalis dunia Amerika Serikat, tiap waktu kami berjaga agar jangan sampai rudal Amerika menimpa kota kami, dan kami terpaksa bersekutu dengan Sovjet Uni agar kami aman. Memang Mao meminta kami agar bersama-sama membangun persekutuan politik, tapi karena Sovjet Uni menolak bila Mao ikut campur maka kami terpaksa melepaskan Mao, walau itu menyakitinya. Padahal kami merasa kami harus mandiri, tidak bergantung kepada negara lain seperti negara Tuan, Indonesia.”

“Begini, Yang Mulia Castro. Sebuah negara pertama-tama harus mandiri. Itu persyaratan terbesar sebuah revolusi. Ia tidak boleh bergantung kepada siapa-siapa, kekuatan dirinya sendiri yang menjadi ukuran. Sebuah negara harus memiliki kemandiriannya, karena kemandirian ia akan mendapatkan tiga hal : Kehormatan, Kemanusiaannya dan Kepandaiannya. Nah, untuk mencapai ini kita harus tegar menghadapi badai godaan. Saya sendiri akan melawan bila negara saya dikelilingi koloni-koloni yang kemudian akan berkembang sebagai sebuah ancaman.”

“Jadi apa yang harus dilakukan Kuba?”

“Yang harus dilakukan adalah pertama-tama Yang Mulia harus menganalisa kekuatan modal yang mulia, apa yang bisa dijadikan alat untuk mandiri, lalu gunakan modal itu 100% untuk kesejahteraan umum. Bagi saya kesejahteraan umum itu sumber kebahagiaan rakyat, negara tidak boleh menjadi tempat bagi penggarong atas nama kapital, atas nama komoditi.”

*

Hari ini di materi Foreign Policy saya dan seorang kawan memilih Kuba di masa rezim Fidel Castro sebagai topik utama presentasi. Sebelumnya, saya mengajukan Xi Jinping, tapi kebingungan mengingat Tiongkok kemungkinan masih melakukan manuver-nya. Mengurangi potensi kalah debat dengan teman kuliah lain, saya memilih Kuba di masa Castro saja. Terkhusus saat Invasi Teluk Babi, Krisis Rudal Kuba dan penerapan diplomasi kesehatan agar Kuba terhindar dari sanksi Amerika Serikat sekaligus membangun persahabatan dengan negara lain pasca runtuhnya Uni Soviet.

Percakapan antara Castro dengan Soekarno saya kutip dari sini.

Advertisements