Rudolf Dethu dan Wendi ‘Wenz Rawk’ Putranto: Musisi dan Politik

​Beberapa waktu lalu ada pengamat musik senior menulis musisi seyogyanya independen tidak berpihak kesana kemari. Anda setuju?

Dethu: Musisi seyogianya independen alias netral, tidak berpihak sana-sini, saya sepakat dengan pendapat itu. Maksudnya sang musisi, istilahnya, “tak bisa dibeli”. Namun, dalam konteks berbeda, musisi sebaiknya memihak, tidak netral alias lepas tangan. Musisi harus terus memihak kepada kebenaran, atau kepada apa atau siapa yang dianggapnya merepresentasikan kebenaran. Justru peran musisi di sini penting dalam menyampaikan pesan sebab musisi dan musik itu lintas suku, agama, ras. Publik juga lebih tipis curiga terhadap musisi dibanding terhadap politikus. Jadi ketika hendak menyampaikan pesan tertentu salah satu caranya ya dengan melibatkan musisi. Sekarang tinggal pintar-pintar musisinya saja memilah-milah, kapan dia mengiyakan ajakan berpartisipasi, kapan menolak. Artinya musisinya harus cerdas dalam membaca keadaan. Jangan justru di saat genting malah netral atau lepas tangan dan membiarkan penggemarnya terombang-ambing bingung harus berbuat apa. Kecuali karena memang tak percaya dengan sistem demokrasi yang sedang dijalankan di NKRI ini, silakan deh netral. Karena itu sudah berbeda konteks lagi.

Wendi: Artis, anak band mereka punya hak politik. Mereka dijamin sama konstitusi. Yang belum dimainkan maksimal adalah menyampaikannya. Gak harfiah tapi harus penuh strategi. Kalau kita lihat Slank karakter mereka memang kritis, politis. Kalau Trio Lestari ini fenomena baru. Kelas menengahnya bukan kelas menengah ngehe tapi yang kritis dan sadar hak sipil dan hak politik. Tapi selama ini gak terjamah karena pendidikan dan seni di sini sangat banal. Musik ya cuma menghibur saja. Ada kredo musik ya musik politik ya politik. Saya gak setuju. Musik bisa punya pengaruh besar memainkan perubahan sosial. Di Indonesia kita kekurangan stok artis yang punya kesadaran politik tinggi. Apalagi masa Orba. Diharamkan bicara politik dalam musik, aktor-aktornya gak banyak. Akhirnya yang kita kenal Iwan Fals, Harry Roesli. Tapi sejak Soeharto tumbang akhirnya banyak. Seperti punk rock. Punk rock ini sebetulnya gerakan kultural yang sangat politik. Negara babak belur, pemerintahan korup sampai tingkat religius, bobrok. Kalau kemudian anak-anak muda mengekspresikan kemuakan mereka pada politik praktis ya sudah seperti itu. Makanya kita kenal band-band seperti Komunal, Seringai, Superman Is Dead. Dan yang paling lucu buat saya Trio Lestari, yang menurut saya gila. Ada band pop trio punya fanbase jutaan, lagu-lagu tidak ada protes sosial sama sekali tapi justru yang pertama memberikan dukungan politik pada salah satu capres. Ini kemajuan besar buat band-band Indonesia. Makanya mereka menggulirkan Revolusi Wangi. Membawa obrolan warung kopi dalam tuksedo. Bayangkan ada jutaan fanbase Glenn, Tompi, Sandhy Sondoro dididik berpikir kritis itu keren banget. Lagu-lagu banyak orang bilang menye-menye tapi punya pesan politis yang menghibur, bukan mengerikan. Itu pesannya nyampe dan lebih tepat sasaran.

Advertisements