EEP

Mungkin tiga kali saya membaca cerpen Eep Saefullah Fatah berjudul “Gerimis Senja di Praha” dan masih ingin membacanya ulang. Lagi dan lagi. Ada banyak isu yang diangkat, mulai dari isu kekerasan terhadap perempuan, sejarah, komunisme dan kapitalisme yang diulas dari sisi negatif.

“Komunisme memang memanjakan. Negara menyediakan apa saja, mulai sabun mandi hingga roti, dengan tak ada lebih pada seseorang dibanding yang lain. Di bawah komunisme, orangtuaku dan siapa pun tak dibiasakan apalagi didesak untuk berkompetisi. Segalanya tersedia tanpa perlu upaya berlebih. Tapi itulah, hidup kami menjadi manja. Tidak menjadi kaya, tapi dalam kesehajaan yang terpelihara.”

Lalu paragraf berlanjut setelah lahirnya Revolusi Beludru menghancurkan Komunisme di Ceko.

“Ibuku yang terlampau tua di hadapan kapitalisme, tersingkir dan tak lagi terpakai sebagai pramuniaga di sebuah kios di Kota Tua. Ayahku terkena rasionalisasi, dipecat dari sebuah lembaga birokrasi yang kelebihan pegawai, tanpa dipensiunkan. Kakak-kakakku sibuk dengan urusan masing-masing. Hidup yang keras membikin mereka tak lagi saling peduli satu sama lain.

Aku terjepit dalam ketiadaan pilihan sampai sebuah tawaran yang begitu manis datang begitu saja dua tahun lalu. Sebuah biro penyalur tenaga kerja menawariku menjadi pramusaji pada sebuah restoran besar di Berlin. Kusambut tawaran itu dengan tangan terbuka sambil bersyukur betapa Tuhan telah begitu baik padaku.”

Ternyata, nasib baik di sini hanya kedok Eep untuk membalikkan cerita. Elena, nama gadis Ceko itu, dijual sebagai pelacur oleh biro penyalur kerja di Jerman. Dan setelah berhasil kabur pun, Elena tetap menjadi pelacur di negerinya, Ceko.
😀

Advertisements