Rolling Stone, Clinton dan Media 

​Ada hal menarik yang saya temui ketika membuka Instagram Rolling Stone. Tentu ini karena komentar pengguna Instagram lain, yang mungkin saja pembaca Rolling Stone.

Ini postingan yang saya maksut.

Rolling Stone mengajak para pembacanya mengunduh podcast “Rolling Stone Music Now” yang kontennya berisi muatan politis: anti Donald Trump.

Saya cukup menyayangkan hal ini. Jujur saja.

Trump dibenci di mana-mana. Terutama di media mayor. Sebuah polling yang diadakan sebuah Universitas Suffolk, mengadakan survei dan hasilnya tidak mengherankan masyarakat menilai 75% media mendukung Hillary Clinton, melawan Trump yang hanya 7%.

Itu berdasarkan polling terhadap masyarakat umum. Artinya, jangan heran banyak media yang menyudutkan Trump.

Silakan baca laporan Fox News tentang support media terhadap Clinton. Wikileaks yang menginvestigasi isu tersebut.

Huffington Post lebih kentara. Karena situs ini lebih menampung opini. Pada tiap artikel yang berkaitan dengan Trump, Anda akan menemui catatan editor mereka: Donald Trump regularly incites political violence and is a serial liar, rampant xenophobe, racist, misogynist and birther who has repeatedly pledged to ban all Muslims — 1.6 billion members of an entire religion — from entering the U.S.

Anggap saja Direktur FBI, James Comey adalah simpatisan Trump. Bagaimana ia dikorek habis-habisan oleh banyak media dan menganggap tindakannya menyelidiki email Clinton seminggu jelang pemilu  merupakan tindakan tercela.

Second Line 4

Tapi tentu saja. Apapun itu. Hal-hal seperti ini tak mungkin dicegah. Justru menjadikan politik semakin menarik.

Beruntung di Indonesia kita memilikinya. Media yang kentara sekali biasnya mendukung siapa.

Advertisements