Funky

Hal yang menarik di semester ini selain jadwal kuliah yang asyik adalah.. menemui kelas dosen funky tiap minggunya.

Tanpa menyebut nama mari bercerita.

Beliau lulusan UGM. Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri saat ini, adalah adik kelasnya. Usia kira-kira limapuluhan lebih. Rambut sudah memutih.

Tapi Beliau funky.

Tanpa perlu tahu apa arti funky sebenarnya mari bercerita.

Di kelas Beliau humoris sekali. Saya heran dengan jokes yang Beliau selipkan di antara materi. Segar. Tepat sasaran. Tapi, apa yang disampaikan bisa dipahami.

Dan.. yang membuat saya sering geli adalah bahasa inggris yang Beliau ucapkan. Terdengar lucu karena pengucapan dengan logat jawanya. Dan sering salah konteks, tapi pede.

Meski begitu, Beliau sepertinya teman diskusi yang menyenangkan. Tiap mahasiswa menimpali ucapannya, ia membalasnya dengan yang lebih lucu. Kadang, saat mahasiswa berseloroh sekenanya dibahas dengan sangat akademis dan terpelajar.

Selain itu, Beliau juga update terhadap isu yang terjadi dan tahu apa yang mahasiswanya gemari. Tidak dikira di usia segitu, Beliau bisa mengoceh tentang ‘fenomena dedek gemes’, ‘pengaruh Drama korea terhadap pembentukan selera remaja wanita Indonesia’ dengan sangat intelek dan lucu.

“Saya punya teman. Kasihan dia. Harus jadi tukang parkir di Gang Dolly supaya penelitiannya tentang PSK di sana valid. Kalau saya pasti gak mau, bukan masalah apa-apa, cuma takut ndak kuat iman.”

Advertisements