Pengeluh Tayangan Televisi Konvensional 

Tentang tayangan di televisi konvensional: saya telah membaca, mendengar dan melihat banyak sekali keluhan tayangan yang tidak berkualitas.

tv

Saya sendiri juga pernah mengeluh tentang hal ini.

Tapi, harus disadari. Keluhan itu tidak berarti apa-apa jika mayoritas masyarakat Indonesia adalah penikmat tayangan ‘yang tidak berkualitas’.

Ini pendapat saya.

Mereka yang menyebut ‘tayangan tidak berkualitas’ tentu memiliki pembanding. Dan tahu, seperti apa tayangan yang berkualitas itu.

Kebanyakan, asumsi tayangan berkualitas itu condong ke stasiun televisi Barat.

Kualitas sendiri sejalan dengan pendidikan. Para ‘pengeluh’ televisi Indonesia datang dari masyarakat yang mendapat pendidikan lebih baik. Itu pasti.

Saya kira, para ‘pengeluh’ ini bukan tidak tahu tentang pemerataan pendidikan Indonesia yang kurang, tapi cara ‘mengeluh’ mereka yang kurang tepat sasaran.

Sejauh ini, yang kena sasaran mereka, menurut saya, ya masih orang-orang mendapat pendidikan baik juga. Bukan sebaliknya mengedukasi mayoritas yang menyukai tayangan yang tidak berkualitas.

Menulis di koran misalnya, siapa sih pembaca koran? Kebanyakan ya masyarakat yang terdidik, bukan?

Menulis di blog atau forum? Juga sama. Bahkan perlu kemampuan teknologi informasi yang mumpuni.

Melalui Youtube? Jawabnya masih sama: kurang efektif. Internet saja tidak merata.

Lalu apa cara efektifnya mengampanyekan tayangan berkualitas?

Saya juga tidak tahu. Hahaha.

*

Masalahnya di sini adalah selera dan bisnis televisi.

Selera masyarakat kan berbeda-beda. Mayoritas kan sukanya tayangan televisi yang ada seperti saat ini.

Sementara stasiun televisi menyuguhkan saja tayangan yang sesuai dengan selera mayoritas. Yang disukai kebanyakan.

Ilmu ekonomi: supply ada karena ada demand.

Lalu apakah wajah pertelevisian konvensional Indonesia akan seperti ini terus?

Tiap orang pasti punya pendapat, tapi pendapat saya terlalu standar: waktu yang akan menjawabnya.

Eh, Tuhan juga. Hahaha.

**

Sementara ini. Biarlah kita, para masyarakat minoritas yang menganggap tayangan konvensional yang ada tidak berkualitas mencari tayangan berkualitas lain.

Dengan berbagai jalan alternatif.

Ya lewat Youtube, Berlangganan televisi kabel, menggunakan parabola, tidak menonton televisi sama sekali atau jalan lain.

***

Kan, kalau lihat berita mulu bosen ya. Mana berita negatif yang sering muncul.

Kadang juga butuh hiburan musik di pagi hari. Eh, yang ketemu cuma acara aneh yang katanya acara musik. Yang isinya game tidak jelas atau curhat yang.. tidak jelas juga.

Malam ya sinetron. Padahal, pagi sampai sore puas dengan kisah cinta artis.

By the way..

Sinetron juga sistem gugur ya ternyata. Yang viewer-nya sedikit pasti mati muda. Yang viewer-nya banyak, jalan cerita makin tidak jelas.

Seperti tulisan ini kalau masih diteruskan.

Advertisements

5 responses to “Pengeluh Tayangan Televisi Konvensional 

  1. Kayaknya yang nonton tivi banyakan ibu ibu sama anak cewek yang muda-muda. SMP SMA gitu. Makanya sinetron rame yang nonton. Orang tampil di inbox aja yang cewek histeris gitu.

    Tapi kalo menurutku kalo gak suka ya matiin aja tivinya. Nonton Net tuh. Apa komedi situasi, stand up. Banyaklah.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s