To: HIMAHI FISIP UNISRI

Sejak berdiri di tahun 2007, studi Hubungan Internasional Universitas Slamet Riyadi tidak memiliki acara pengenalan antara mahasiswa baru dengan seniornya. Baru di tahun 2012 acara tersebut diadakan. Itu terjadi di angkatan ke lima, di saat Ani Kusumarini (angkatan 2011) menjadi Ketua HIMAHI (Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional).

Pada awalnya, Reza, penggagas acara tersebut, memberi nama Makrab HI (Malam Keakraban mahasiswa HI). Lalu nama itu diganti dengan MRD (Malam Resepsi Diplomatik) karena dirasa lebih mencerminkan seperti apa acaranya.

Tidak ada gojlokan atau tekanan dalam MRD. Karena format acaranya santai, kekeluuargaan dan having fun. MRD berisi sharing magang, pengenalan skripsi, pembekalan materi dan tentang perkuliahan serta hal akademis lain baik dengan alumni, mahasiswa senior, maupun dosen.

Harapannya, MRD memberi gambaran mahasiswa baru tentang bidang studi Ilmu Hubungaan Internasional. Dan mengakrabkan mahasiswa HI antargenerasi.

Tujuan MRD:

1. Mempererat hubungan antara mahasiswa Ilmu Hubungan
Internasional yang baru dengan mahasiswa angkatan sebelumnya.

2. Menambah wawasan dari pengalaman kakak-kakak alumni tentang studi Hubungan Internasional.

3. Memperkenalkan organisasi HIMAHI UNISRI dan membuka kesempatan untuk bergabung dalam organisasi HIMAHI UNISRI.

4. Menjalin kekeluargaan antar angkatan di program studi Ilmu
Hubungan Internasional UNISRI

Itu tujuan formal MRD seperti yang ditulis resmi di atas kertas berlogokan HIMAHI. Tujuan informal juga ada. Seperti mencari bibit-bibit cinta ke mahasiswa baru. Siapa tahu cocok dijadikan pacar.

Tidak. Itu bercanda saja. Supaya laporan ini tidak membosankan. Tapi contohnya kalau dicari pasti ada.

MRD 2015 seperti apa?

Annas Faundra terpilih menjadi Ketua HIMAHI tahun 2014-2015. Di masa kepemimpinannya, acara MRD 2015 memiliki tajuk utama Smart Diplomacy. Dengan tema “Throw off Your Mask and Show Your Personality for Better Diplomacy”.

Tema itu dipilih untuk melawan persepsi diplomat yang dipandang menggunakan apa saja, termasuk topeng untuk mencapai kepentingannya. Throw off your mask lebih berarti seseorang yang confident dengan dirinya sendiri.

Ditanya soal smart diplomacy, Annas Faundra mengatakan, “Smart diplomacy di sini artinya diplomasi yang dilakukan dengan cerdas. Kalau diplomat ya diplomat itu bisa menjalankan misi utamanya dengan sukses. Mampu mengubah kekurangan dalam dirinya menjadi kelebihan sebagai senjata utama saat bernegosiasi.”

MRD 2015 berlangsung secara meriah. Dan terbukti mampu mengakrabkan mahasiswa HI junior dengan seniornya. Komunikasi yang terjadi seperti tanpa jarak. Tentu itu pertanda baik untuk mahasiswa HI, untuk HIMAHI dan program kerja yang akan dilaksanakan nantinya.

Lalu seperti apa cerita MRD 2015? Berikut ceritanya sebagaimana ditulis oleh Arie Susanto, salah seorang mahasiswa HI yang menjadi peserta MRD 2015.

Villa Bunda Hana di Tawangmangu menjadi tempat berlangsungnya MRD 2015. Kami  tiba pukul 10.00 pagi di hari yang sejuk di tanggal 14 November 2015. Sekitar tigapuluh menit kami diberi waktu istirahat. Waktu tigapuluh menit itu kami gunakan dengan baik, setidaknya untuk tiga hal; istirahat, adaptasi dengan suhu yang dingin dan selfie! Hahaha.

Lepas itu, kami diberi materi oleh GPH Dipokusumo. Selain dosen, Beliau adalah Ketua Prodi Studi Ilmu Hubungan Internasional kampus kami. Materi yang Beliau sampaikan, seputar prodi HI. Penjelasan, sejarah dan lain-lain yang masih di lingkup Hubungan Internasional. Beliau juga memberi motivasi kami supaya semangat kuliah. Kalau kata saya mah Mario Teguh juga tak ada apa-apanya.

Satu perkataan Pak Dipo yang saya ingat, “Kalian ke sini itu untuk belajar. Jadi ya belajar saja yang serius. Jangan mikir yang lain, seperti kerja atau nikah. Kalau tidak serius ya mending ke luar saja mumpung belum terlalu jauh. Kasihan Ibu Bapak di rumah. Kalian apa tau susahnya mereka biayain Kalian?”

Yes, Sir. GPH Dipokusumo rules!

Sebenarnya, kalau mau digambarkan satu persatu akan panjang laporan ini. Dan saya tidak mungkin menulisnya. Takut nanti Anda bosan. Maka laporan ini dipersingkat, kalau MRD itu diisi dengan;

Pembekalan materi. Seperti yang diceritakan Arie di cerita di atas. Pada MRD 2015 tentu bukan hanya GPH Dipokusumo yang menjadi pemateri. Tapi juga dosen mata kuliah lain yang ditunjuk panitia, alumni dan mahasiswa yang masih aktif. Materi yang disampaikan juga tidak kaku dan ringan. Dalam satu sesi bahkan materi yang disampaikan hanya menonton film saja. Tentu film yang dipilih ada kaitannya dengan studi Hubungan Internasional.

Sharing alumni. Kegiatan ini rutin diadakan sejak MRD yang pertama. Para alumni didatangkan untuk memberi motivasi dan semangat bagi mahasiswa baru maupun senior. Mereka diminta berbagi cerita tentang pengalamannya di kampus, saat magang, saat skripsi dan yang terpenting, menjalin silaturahmi yang baik agar tidak terputus. Dalam tanda kutip, mereka pasti mau kok kalau ditanya-tanya oleh mahasiswa HI UNISRI yang lain.

Acara inti. Acara inti adalah makan bersama dan pentas seni. Pada sesi ini, mahasiswa senior selaku panitia dan juniornya berkumpul jadi satu mengenakan topeng (mask) yang telah disediakan. Pentas seni diisi berlangsung meriah dan kreatif. Mahasiswa angkatan 2015 ternyata kreatif. komedi situasi, menyanyi, drama dan puisi adalah pentas seni yang ditampilkan. Pentas seni menyanyi serasa melahirkan Raisa-Raisa baru.

Di antara meriahnya acara, Diah Setyowati berkata, “Wah, ternyata Analieza suaranya mirip Raisa. KW satu, nggak super-super amat.” Dan memang, Analieza Ilmiatu Mufidah, suaranya mirip Raisa.

Tapi, acara inti yang sebenarnya bukan pentas seni.

Pukul 12.00 malam tepat, tiga orang datang dengan topengnya. Bukan topeng yang dipakai para peserta maupun panita MRD. Topeng yang mereka pakai berbeda. Lalu mereka meminta seluruh peserta berkumpul mengitari api unggun. Lalu satu persatu dari mereka memberi materi.

Kali ini serius. Materi disampaikan secara tegas. Santai tinggal kenangan. Tiga orang itu adalah dosen HI. Wahyu Bhudianto, Damayanti Suhita dan Herning Suryo Sarjono yang membuat malam itu menjadi malam yang serius. Dan memang, Ilmu Hubungan Internasional tidak bisa dipandang sebagai ilmu biasa. Ini ilmu yang penting.

“Sekarang lepaskan topeng kalian semua. Lepaskan! Bakar di api unggun yang ada di depan Kalian.” pinta Pak Bhudianto.

Ibu Herning menyahut, “Dengan terbakarnya topeng itu. Kini kami bisa melihat wajah asli Kalian. Dengan harapan, kami ingin melihat kalian berprestasi. Bagi diri sendiri, universitas dan nusa bangsa. Jadilah diri Kalian sendiri.”

Sebuah malam yang penuh semangat berapi-api.

Esoknya, 15 November 2015 kami pulang. Dengan semangat yang masih berkobar.

Advertisements

2 responses to “To: HIMAHI FISIP UNISRI

  1. halo dimas. haha. iya. tapi acaranya santai. sama di dalam ruangan.
    bytheway, ini nanti postingannya mungkin dihapus. cuma buat nunjukkin aja ke pengurus himahi saat ini.

    Like

Comments are closed.