Bagaimana Seharusnya Kita Berdoa

Posting blog kali ini terinspirasi dari salah satu artikel yang ada di majalah gratis ‘Menara Pengawal’. Majalah kristen ya.

mountain

Cerita sedikit, dulu Bapak saya memang kristen. Sebelum tiga tahun kemudian masuk Islam. Alhasil, banyak koleksi majalah kristen di rumah. Yang sekarang menumpuk di gudang.

Sewaktu masih suka makan permen, saya selalu terpesona dengan pendeta yang datang ke rumah. Berbeda sekali dengan guru ngaji saya.

Mereka keren-keren. Mengendarai mobil, tampilan seperti orang kantor, dan mereka ramah-ramah. Sepatu pantofel, baju setelan, parfum.

Kalau ada yang tahu Philip Mantofa, seperti itulah pendeta yang datang ke rumah. Tapi ya, tidak setampan Philip Mantofa ya.

Mereka datang berdua, terkadang bertiga. Sampai rumah ngobrol sebentar lalu mengaji. Lepas dua jam mereka selesai.

Momen ‘selesai’ itu yang saya tunggu. Soal saya pasti dibawakan hadiah oleh mereka. 😀

Jangan kira saya matre ya. Saya juga beberapa kali ikut Bapak mengaji. Kalau sudah begitu, pendeta itu memberi hadiah lebih dari biasanya.

Lalu saya membandingkan lagi. Enak sekali menjadi orang kristen. Kalau mengaji didatangi pendetanya, bukan kita yang datang. Dan saat mengaji, isinya hanya bimbingan konseling dan membaca puisi.

Tapi tentu saja, tidak lantas saya memeluk kristen. Saya tetap Islam dari dulu ikut Ibu.

Saya hanya suka cara mereka mengaji dan hadiahnya saja. Hahaha.

Mengenai cara berdoa, saya petikkan ayatnya.

“Sewaktu kita berdoa, Allah tidak ingin kita menggunakan kata-kata yang muluk-muluk atau mengulang-ulangi doa yang sudah dihafal. Kita juga tidak perlu melakukannya dengan sikap tubuh tertentu. Yehuwa mengundang kita untuk berdoa dari hati.” (Matius 6:7)

Kalau ditarik ke kehidupan sehari-hari, maka ayat di atas menyindir betul. Selesai shalat, saya membaca doa yang sudah hafal di luar kepala: doa selamat. Tidak benar-benar dari hati.

Jangan-jangan doa saya itu, hanya sampai di pintu Allah saja. Tidak benar-benar dibaca oleh Allah.

Tentu tidak ada yang tahu.

Tapi, sepertinya, cara berdoa ini harus dilakukan juga. Bahwa berdoa, jangan karena hafalan, tapi sertakanlah hati di dalamnya.

Yuk mari.

Advertisements

9 responses to “Bagaimana Seharusnya Kita Berdoa

  1. Suka deh sama tulisan ini.. Habis solat juga kayanya aku berdoa hapalan doank.. Mungkin memang butuh menggunakan hati biar beneran sampai. Makasih ya tulisannya mengena..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s