Ambil Saja Baiknya

Jadi politisi itu serba salah. Makanya, harus siap mental.

Politik.

Berbuat baik saja dibilang pencitraan. Apalagi berbuat yang tidak baik. Barbel melayang kalau kata Agung Hercules.

***

Kali ini musimnya mudik. Di jalan beberapa kali saya melihat bus mudik gratis dari parpol. Saya melihat itu sebagai hal baik. Teman saya nyinyir, “Ah, pasti ada maunya itu.”

Tidak ada yang benar-benar gratis katanya. Pasti ada keuntungan jangka pendek atau panjang dari ‘investasi’ yang mereka lakukan itu

Kalau saya, ambil sisi baiknya. Dengan begitu, minimal ada yang merasakan manfaatnya. Bisa mudik tanpa biaya.

Sama seperti politikus lain. Sebagai contoh, Hary Tanoesoedibjo yang akhir-akhir ini rutin turun ke daerah. Memberi ini itu secara gratis.

Pesimistik bahwa yang Harry Tanoe atau politikus lain lakukan itu tulus memang boleh. Tapi jangan kebangetan lah ya.

Siapa tau mereka benar-benar tulus? Siapa tau lho ya.

Toh, mungkin, itu adalah cara mereka menghadirkan diri ke tengah masyarakat. Membantu sesama. Melihat secara langsung seperti apa kondisi masyarakat secara langsung. Lalu menimbang, apa yang bisa diberikan untuk kesejahateraan bersama.

Saya kira, praktik politikus ‘berinvestasi’ dengan memberi yang baik-baik ke masyarakat bukan rahasia lagi. Lalu kenapa harus pusing? Kan memang itu cara yang paling efektif.

Tapi ya itu kembali ke individu untuk memiliki perspektif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s