Doa Ibu

Beberapa hari terakhir, Dono terlihat lebih agamis dari biasanya. Sekarang ia tak hanya shalat wajib saja. Tapi juga shalat sunnah, berdzikir lama di masjid dan banyak bersedekah.

ANAK JALANAN

Ibunya sampai heran. Ada apa gerangan anaknya berubah demikian.

“Pak, anak kita kenapa? Kok akhir-akhir ini sering sekali di masjid daripada di rumah?”

“Iya ndak papa to, Bu. Malah baik. Bantu-bantu bersih masjid kan dapat pahala.”

“Tapi gelagatnya kok aneh, ya Pak?”

“Aneh gimana to, Bu?”

“Dia makin rajin shalat. Doa terus. Dia ndak ikut aliran-aliran itu kan, Pak?”

“Ndak, Bu. Ya biarkan saja. Nanti malam tanyai saja.”

Malamnya.

“Dono, kamu ada apa kok akhir-akhir ini rajin sekali ke masjid?”

“Lho, ya ndak papa to, Bu. Lha emange kenapa?”

“Kamu ikut aliran aneh-aneh itu, ya?”

“Aliran apa maksute?”

“Yang jenggot-jenggot itu?”

“Ndak, Bu. Hahaha. Ibu kok ada-ada ae.”

“Lho, lha terus kenapa kamu akhir-akhir ini rajin ke masjid?”

“Supaya doa Dono lekas dikabulkan Gusti Allah, Bu.”

“Doa apa to, Don?”

“Doa agar sinetron cinta-cintaan gak jelas itu lekas tamat. Bosan Dono lihatnya.”

“Loh, jangan. Ibu suka soalnya.”

Advertisements