Harem dan Kelompok Yang Ia Percayai Sebagai Saudara

Ia ditangkap di rumahnya oleh empat orang berseragam serba hitam di rumahnya. Empat orang itu membawa senapan otomatis di bahu mereka masing-masing. Mereka berbahasa Arab.

Tanpa babibu Harem ditutupi kepalanya. Ia tak bisa mengelak. Percuma melawan. Memang ini salahnya. Ia tak ikut mengungsi bersama anak dan isterinya.

Keesokan harinya, Harem diinterogasi. Ditanyai ini itu. Pertanyaan itu hanya seputar hal remeh temeh.

Tiga hari ia diculik. Ia tau kelompok macam apa yang menculiknya. Ia banyak membaca berita dari internet dan koran lokal. Kelompok sayap kanan, begitu harian Internasional yang diakses lewat handphonenya.

“Kamu tau, apa yang diberitakan di media selama ini hanyalah berita palsu. Kami tak seperti itu. Lihatlah tawanan kami, kamu, diperlakukan layaknya saudara kami. Kita saudara.”

Harem setuju benar dengan ucapan interogator itu. Selama di kamp, dirinya diperlakukan baik. Diperlakukan layaknya tamu.

Lantas ia membenci media yang selama ini dibacanya.

Lama sekali ia merenung. Berapa banyak berita bohong yang ia konsumsi.

Esoknya, ia dibawa ke tanah lapang. Ia setuju. Untuk membuat drama “seolah eksekusi” dengan kelompok itu. Ia ingin agar negaranya berhenti menyerang negara kelompok itu. Toh, kelompok itu berhak atas tanah dan kebebasan pikirannya.

Ia berlutut. Akting seolah takut.

Harem ditengkurapkan. Amat dekat sekali pisau dengan lehernya. Ia masih dalam akting seolah takutnya.

Sang Algojo menyeringai. Kameramen menyeringai. Mereka buang kepala Harem seolah sampah.

Advertisements