Warung Remang-Remang di Pinggiran Hutan Jati

forest

Hari itu hari kamis. Seperti biasa kuliah pagi Bahasa Indonesia saya lewatkan. Dosennya freak. Dan itu actually bukan literally. Tak perlu diceritakan lebih. Nanti dosa.

Sore saya ke kos teman. Ternyata Hakam, nama teman saya itu, tak bisa masuk kos. Gerbang depan digembok. Ibu kos pergi. Dua minggu saya tak melihat Ibu Kos. Hakam bilang, Ibu Kos menunggui suaminya yang sakit.

Lama menunggu di depan gerbang kos, Hakam mengajak ke rumahnya. Saya mengiyakan. Hitung-hitung jalan-jalan. Bensin ia isi. Saya motoran dari Solo ke Purwodadi.

Jalan arah Purwodadi sedang dalam perbaikan. Macet dan debu jadi kawan perjalanan. Tak apa, anak touring. 😀

Macet dan debu hilang saat masuk daerah Sumber Lawang. Saya capek, Hakam ganti di depan. Dia tau jalan pintas.

Jalan pintas itu ternyata jalan arah Waduk Kedung Ombo. Jalan itu memang cepat, dijamin tidak kena macet karena sepi sekali.

Kalau saja daerah itu ada di Jakarta atau Depok, mungkin rawan begal. Potensial begal dan tindak kriminal lainnya.

Atau, kalau bukan begal, ya makhluk tak kasat mata. Deskripsi jalan itu sebagai berikut; berkelok-kelok, aspal naik turun tak rata, kanan kiri hutan jati dan sama sekali non penerangan.

Saya membayangkan kalau ada orang lewat jalan itu malam-malam sendirian. Di tengah jalan kena sial motor atau mobilnya kehabisan bensin atau bannya bocor. Gaswat!

Anyway, sampai daerah Kedung Ombo kami makan di warung makan langganan Hakam. Menunya hanya satu: rica-rica mentog (bahasa Indonesia saya tak tau).

Memang enak masakan itu. Pantas Hakam sering membawanya ke kos. Rp. 20.000 seporsi. Pedas, manis dan mengenyangkan.

Lepas makan perjalanan dilanjut. Saya di depan lagi. Sekeliling jalan masih hutan, tapi ada lampu dan warung remang-remang. Beberapa kali menyalip motor di depan saya melihat pemandangan menggiurkan: wanita cukup muda berpakaian minim dibonceng Bapak-Bapak.

Walau terlalu mesra untuk ukuran Bapak-Anak. Positive Thinking saja, itu Bapaknya. 😀

Pukul 21.00 sampai tujuan. Di rumah Hakam hanya mampir mandi. Karena setelahnya main sampai pagi. Kumpul dengan teman Hakam yang lain di Simpang Lima Purwodadi. Hakam gitaran, saya ikut nimbrung. Sementara lima orang teman Hakam yang lain sibuk mengurusi COC-nya. Sampai pagi.

Jari mereka betah-betah.

Jam 05.30 berangkat lagi ke Solo karena jam 08.00 ada kuliah favorit saya. Mata Kuliah PKN yang diampu oleh dosen fakultas hukum.

Jalan yang dilewati di malam hari ternyata nampak indah di pagi hari. Warung remang-remang rupanya tutup di jam normal manusia.

Sampai di kampus suasana masih lengang. Balik ke kos suasana aneh. Ada bendera kuning dan mobil ambulans. Ternyata, Suami Ibu Kos meninggal.

Saya merasa kehilangan. Sering Beliau yang melayani saya saat minta dibuatkan es kopi. Dan Beliau, murah senyum.

Di sisi lain, saya dan Hakam juga gelisah. Karena di sore hari kemarin banyak sekali sumpah serapah yang keluar dari mulut kami. Hanya gara-gara gerbang yang tak dibuka.

Advertisements