Wanita Yang Berlarut-larut Dalam Perasaan

Weird..

Putus cinta tidak harus sedih yang panjang dan berlarut-larut. Tidak perlu memikirkannya dalam-dalam. Sebab hidup bukan hanya soal cinta.

***

Prolog yang aneh. Hahaha.

Oke. Biarkan saya bercerita. Biarkan jemari ini menuliskan apa yang saya pikirkan dalam bentuk tulisan: Tentang putus cinta. Dari sudut pandang lelaki.

Maaf untuk pembaca wanita, tapi tendensinya wanita terlalu lemah dalam urusan cinta. Semangat emansipasi yang Kalian kobarkan tidak berlaku untuk urusan percintaan.

Sebab itu, ketika cinta itu putus. Butuh waktu yang lebih lama untuk bangkit daripada laki-laki.

Ini kodrat. Alamiah. Bahwa, wanita selalu berkecamuk dengan perasaan dalam berpikir, bertindak atau memutuskan sesuatu. Bahwa wanita, berpikir dengan perasaan.

Sementara pria, yang lebih rasional. Berpikir logis. Perasaannya tidak setajam wanita. Dalam hal apapun.

Itu adalah pisau bermata dua. Memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing.

Tapi untuk urusan putus cinta. Saya kira, pria lebih mudah menghilangkan kesedihannya.

Entah ia larut dalam pekerjaan, kumpul dengan teman, tidur atau mencari wanita lain.

Tentu saja ada pengecualian. Selalu ada tempat untuk pengecualian.

Saya memang membaca buku Tere Liye. Dan menganggap “Rembulan Tenggelam di Wajahmu” adalah masterpiece-nya. Tapi saya bukan seseorang yang sering menekan tombol like pada catatan Facebooknya yang penuh petuah itu.

Sebagai pengecualian, saya setuju dengan Tere Liye bahwa yang harus dilakukan wanita, yang belum menemukan cintanya atau yang sedang putus cintanya adalah memantaskan diri. Memperbaiki diri untuk pria yang lebih pantas.

Menimbang dengan menurutkan pikiran logis di dalamnya. Jangan menganggap cinta seperti apa yang ditayangkan sinetron di televisi. Tanpa logika. Hanya urusan rasa.

Sama seperti pria. Wanita, harus memandang cinta dari dua sudut pandang; sudut pandang wanita itu sendiri dan sudut pandang pria.

Hal itu, agar kalian mengerti. Ada dua pandangan berbeda soal cinta. Dari yang lebih menggunakan perasaan dan logika.

Sebagai acuan dan tips saat berhadapan dengan urusan rasa. Cobalah resapi puisi “Aku Ingin” Sapardi Djoko Darmono, lagu “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” dan pahami alur pikiran pria.

Yang pasti dan sudah dibuktikan lewat penelitian, wanita memang mengandalkan rasa.

Sulit mengubah kodrat. Tapi selalu ada pengecualian.

Advertisements