Sedia Payung Sebelum Hujan

surrealism

Mari anggap rencana yang kita buat adalah payung dan nasib adalah hujan.

Apa sering sejalan?

Pernah kejadian, saat payung ada di dalam tas, hujan tidak turun. Padahal musim hujan. Eh, pas payung tidak ada dalam tas, hujan turun dengan derasnya.

Padahal niat saya hanya mengurangi beban tas saja di pundak.

Mungkin pembaca pernah mengalaminya. Dan itu menjengkelkan. Bikin stres juga.

Payung adalah rencana. Hujan adalah nasib. Tapi, setidaknya kalau payung ada di tas. Ada sedikit rasa aman karena ada “sesuatu” yang “dipegang”. Walau rencana itu hanya prediksi yang didasari pengetahuan kita ala kadarnya.

Selebihnya, berdoa agar nasib (kenyataan) sesuai rencana awal. Yah, kalau melenceng ya berdoa melencengnya sedikit saja. Kalau memang melenceng jauh, ya.. namanya juga nasib.

Mau gimana lagi?

Makanya, saya mulai menata hidup. Mulai membuat rencana-rencana hidup. Dari yang paling awal dan yang paling saya suka dulu saja: keuangan.

Hari ini sampai lima belas tahun ke depan saya ikut reksadana. Semoga rutin tiap bulan. Tidak banyak. Hanya beberapa ratus ribu tiap bulan.

Saya tidak asal pilih soal Manajer Investasi. Sudah saya konsultasikan langsung. Hitung-menghitung prospek profit dan kerugian secara matematis.

Semoga ke depannya prospeknya bagus. Sesuai harapan dan hitung-hitungan “matematis” menguntungkan saya. Soal masih ada perasaan takut. Takut payung saya tidak kuat menahan hujan. Atau malah rusak.

Eh, tapi jangan sampai ya. Doa harus yang baik-baik. Optimis!

Paragraf terakhir: sedia payung sebelum hujan walaupun tak hujan. Walaupun payung hanya menambah beban di dalam tas. Setidaknya kita punya payung.

Advertisements