Kisah Kita Adalah Romeo dan Juliet

Surrealism

Saat itu, katamu, aku sedang cantik-cantiknya. Sampai bulan tak berani menampakkan sinarnya.

Kita duduk berdua. Kita, bercerita. Tentang segala hal. Suatu hal yang biasa kita lakukan.

Kamu, ah betapa tampannya kamu malam itu. Setelan jas lengkap dan sepatu pantofel memang membuatmu sempurna. Tapi, aku selalu suka kamu yang seperti ini. Dengan busana rumahan. Aku suka melihatmu tidak sempurna.

Malam itu, kita berdua saling memadu. Berbeda dengan malam biasanya. Aku menurut saja mau kamu seperti apa. Kamu sangat bergairah malam itu. Dan aku, menyukai hal itu.

“Mungkin, banyak wanita yang mengidamkan kamu sebagai suaminya. Mereka berlomba ingin menjadi aku.” kataku sembari mengangsurkan segelas minuman.

Tak berapa lama, kamu gelagapan. Mulutmu berbusa. Meracau tidak karuan. Kamu, tak henti mengumpat. Semenit berlalu, tubuhmu tak bergerak. Matamu mendelik tajam ke arahku. Napasmu berhenti. Aku menyeringai.

Aku mencium keningmu. Ciuman paling dalam yang kumiliki. Minumanmu masih tersisa. Aku menambahkan lagi bubuk sianida itu ke dalamnya. Aku menenggaknya.

“Sayang, kisah kita seperti Romeo dan Juliet.”

Advertisements