Fake Plastic Trees Adalah Lagu Putus Cinta

Mmm.. Whatever

Sebuah pujian harus disematkan pada Radiohead lewat lagu-lagunya yang kontemplatif dan sarat makna. Terkhusus hari ini, saya menyelami “Fake Plastic Trees” yang liriknya sangat dalam. Sedalam apa?

Apa yang diceritakan Radiohead lewat lagu ini begitu mistis menurut saya. Pastinya, intepretasi otentik ada di kepala Thom Yorke selaku pengarang lagu, tapi pendengar selalu dibebaskan mengintrepetasikannya, bukan?

Bukannya kita sering mendengar pernyataan, “Ah, ini lagu gue banget” atau

“Ah, lagu ini mirip kisah saya”?

Banyak referensi yang saya baca mengintrepetasikan lagu ini dengan hal medis. Operasi plastik. Saya menangkap hal lain dari lagu ini.

Jadi, menurut saya ini adalah..

Lagu putus cinta.

Penekanan rendah di bagian lirik, “If I could be who you wanted. If I could who you wanted. All the time. All the time” menunjukkan sifat depresif yang mendalam. Dalam konteks intrepetasi saya, ya, terhadap pasangan.

Sementara penekanan dengan nada tinggi ada di baris lirik, “She looks like the real thing. She tastes like the real thing. My fake plastic love..” membuat liriknya kuat. Bisa dibayangkan, apa yang selama ini kita rasa nyata ternyata hanya sesuatu yang semu? Ada kemarahan dan kekesalan yang harus diungkapkan di sana. Thom Yorke, di bagian lirik tersebut membuat deskriptif yang efektif.

Lagu ini, di sisi lain, bercerita tentang ketidakberdayaan manusia. Dalam hal apapun.

Betapapun kuatnya usaha kita mengubah keadaan. Menolak umur yang menua. Melawan takdir. Mengusahakan cinta dengan mati-matian. Kalau tidak digariskan sesuai harapan, ya tinggal hati yang lapang dibutuhkan. Kita tidak diberi kemampuan lebih mengubahnya menjadi sesuai keinginan kita.

“Gravity always win”. Siapa yang bisa melawannya? Sehebat apapun kita. Sekuat apapun kita menjaga.

Kita itu apa? 😀

Advertisements