Wawancara Dengan Noto Sunaryo, Ketua Seni Reog PAKEM Boyolali

Ini adalah hasil wawancara dengan ketua Seni Reog Pakem (Pakumpulan Kembang Mekar) yang beralamat di Kadisono Karangtalun, Gubug, Cepogo, Boyolali. Wawancara berlangsung selama 45 menit. Pagi itu, pukul 09.30 saat saya tiba di kediaman Bapak Noto Sunaryo. Saat ditemui, Beliau sedang kurang enak badan. Dalam pembicaraan turut pula istri beliau yang berulang kali memberi jeda saat wawancara berlangsung.

Reog Pakem Boyolali. Wawancara silakan dibaca di blog: ariesusduabelas.wordpress.com

Arie: Seperti apa awal Pakem mulai terbentuk?

Noto Sunaryo: Awalnya itu ya ada rombongan Jathilan di sini, ada Campursari juga. Terus campur, mulai muncul namanya Pakem. Pakumpulan Kembang Mekar. Inventaris ya ada banyak, ada seratus lebih.

A: Itu tahun 2000?

N: Iya. Tahun 2000. Terus mengundang dari PDK, kalau sekarang namanya apa itu.

A: Dari Kabupaten?

N: Iya dari Kabupaten apa dari Kecamatan ya saya lupa. PDK. Terus dapet pidhakepnya selamanya.

A: Jadi ada dukungan dari pemerintah gitu ya, Pak?

N: Ada. Itu sertifikatnya juga ada. Selama pakai itu pidhakepnya ada. Jadi kalau mau pentas, yang nanggap itu dikasih fotokopinya. Jadi, reog kami juga sampai Jawa Timur. Ini sudah tahun ini kami ada di Malang.

A: Malang?

N: Iya, itu nomer satu.

A: Itu festival? Lomba gitu, Pak?

N: Iya. Tapi namanya ini yang ngundang ya dari sana. Terus dulu ada di Madiun. Mau, mau apa ya, mau nomer satu tapi ndak enak dewan jurinya. Masa’ Jawa Timur Reog Ponorogonya nomer dua kan ndak enak to. Jadi, sini nomor dua.

A: Loh kok bisa gitu ya, Pak? Hahaha.

N: Hahaha. Iya, di sini kan joged Warognya sudah bagus. Terus nomer dua. Terus dipanggil lagi bawa ke Malang dapet nomer satu. Ya itu dulu, sekarang itu main di dukuh sini, besok itu pergi ke Malang.

A: Wuh, capek pasti itu.

N: Iya. Jadi inventarisnya banyak itu. Pakaian-pakaian. Jadi kalau yang dipakai sekarang ada tanggapan besok, sekarang ndak dipakai dulu. Jadi ganti-gantian gitu lho, Mas. Banyak itu, pakaiannya, kalau tiga atau empat kali ya sudah dibeli orang.

A: Dibeli maksutnya?

N: Namanya apa itu ya, minta pakaian yang sudah dipake gitu lah. Hahaha.

A: Dibeli grup reog lain?

N: Ya iya, dari reog lain itu. Itu yang minta sudah dipakai tapi masih baru. Jadi ndak ada pakaian yang kumuh gitu. Ndak, pasti masih bagus semua.

A: Belum pernah dipakai?

Reog Pakem Boyolali. Wawancara silakan dibaca di blog: ariesusduabelas.wordpress.com

N: Iya.

A: Modelnya sama?

N: Ya, nanti kalau sudah olo ben digunakke wong (kalau sudah jelek biar dipakai orang).

A: Tapi kalau urusan tari-tarian kok masyarakat menilainya sama gitu, Pak?

N: Menilainya sama. Ndak, itu kan sudah sendiri-sendiri. Ah.. itu Jaranan, tariannya berapa-berapa saya lupa. Sampai lupa gitu. Hahaha. Kalau sekarang tariannya ya, apa, banyak gitu.

(Istri Bapak Noto Sunaryo menyela obrolan: Ndak itu Mas, Bapaknya udah tua. Hahaha.)

N: Iya, Mas. Ndak konsen saya. Hahaha. Dulu, Jaranan tiga. Terus tari Badhong itu, terus Cakil yang dari STSI itu. STSI di sini mau ngundang, baru ke sini kemarin. Ya, tariannya bagus, motifnya baru, anak-anak itu udah pas. Nek itu orangnya kan ndak gemuk-gemuk gitu. Ya itu baru jumat.. eh minggu kemarin Ketoprak di sini pakai (seragam) Cakil dulu.

A: Ada Ketoprak juga di sini?

N: Iya. Di sini berdirinya, dua RW dua Dukuh itu satu arah. Namanya Kadisono Karangtalun. Kadisono Karangtalun itu sudah berdiri dari dulu, merupakan (tanda) antaranya anak-anak Kadisono-Karangtalun itu sudah rukun semua. Anu, tidak memecah belah. Kalau dulu belum ada itu ya ada yang tidak mau, kalau sekarang komando satu sampai sekarang. Itu masyarakat di RW 01 dulu, sini kan RW 02, di sini siaran masjid ya di sana ikut. Bersih-bersih. Sedekah apa gitu. Sudah kesemuanya merupakan kebagusan antara masyarakat antar RW.

A: Jadi di sini, semua pemudanya ikut Bapak? RW 02 ya, sini.

N: Iya semuanya itu. Dari lain daerah juga ikut.

(Istri Pak Noto nimbrung: Itu kok ndak ke tempatnya Junaidi aja to, Mas. Orang tua itu omongnya suka ndak jelas.)

Reog Pakem Boyolali. Wawancara silakan dibaca di blog: ariesusduabelas.wordpress.com

A: Hahaha. Ndak bisa Bu, harus ketuanya langsung.

N: Itu, Junaidi kan yang apa, yang.. ya saya ketuanya gitu. Saya tau semuanya. Dulu ya, penonton bagus, sampai sekarang bagus kalau ada di tempat daerah itu yang.. mana itu.. dekat Ampel.

(Istri Pak Noto: Itu Bapake badannya ndak enak. Kurang sehat.)

A: Usianya Pak, mohon maaf, usia para pemainnya?

N: Usianya? ya, duapuluh itu yang taraf yang tua, duapuluh. Yang duapuluh turun sampai limabelas itu kan dapat tariannya sendiri nanti. Dipakai yang rajin, yang muda. Kalau Jaranan ya yang tua gitu.

A: Yang perempuan juga ada?

N: Ada. Topeng Ireng itu perempuan.

A: Pendidikannya Pak, mohon maaf?

N: Waa, banyak. Perempuannya ada sebelas lebih. SMP sampai SMA mungkin ya. Kalau sekarang ya udah anu.. jadi kalau sudah menikah ya malu. Hehehe. Tapi masih ada sekarang. Setiap bulan dulu itu, di sini mengadakan kumpulan. Kumpulannya ya membahas ada kas, ketemuan gitu. Jadi kalau saya jadi orang tua, mana yang bagus ya diturutin. Saya ndak terlalu kaku-kaku gitu ndak ya. Mana yang bagus saya ikuti. Ini bagusnya apa beli ini, beli itu mathuk pora mathuk porane (cocok tidak cocoknya) ndak ada politik-politikkan. Yang sering tombok itu ya Junaidi itu.

Reog Pakem Boyolali. Wawancara silakan dibaca di blog: ariesusduabelas.wordpress.com

A: Pak Junaidi sebagai?

N: Sebagai.. ah, dulu dia itu pelatih. Sampai sekarang sudah pengalaman-pengalaman, sama yang lain itu mengundang dari STSI. Itu yang namanya monyet, Tari Monyet itu. Kalau main seperti di ISITV (agak kurang jelas di sini, ISITV atau stasiun tv apa). ISITV itu kan tariannya semua dari STSI ya.

A: Jadi orang STSI juga ikut menciptakan tarian?

N: Iya.

(Istri Pak Noto kembali menginterupsi: Mas, ini itu direkam itu dibawa apa, saya takut lho Mas. Bawa ke sana-sana nanti.)

A: Hahaha. Ndak o Bu, ini buat tugas kuliah aja. Mayoritas berarti reog itu pekerjaan sampingan ya, Pak?

N: Iya. Pekerjaan sampingan, kalau main ya ikut semua. Ya kalau tiga kali empat kali main terus ya, jadi misal ada tanggapan tanggal 3, 5, 8 main satu kali nanti ya dikasihke pesertanya itu Rp. 10000 apa berapa gitu. Hahaha. Itu mengikat, anu, mengikat anak buahnya itu. Biar ndak lari dari rombongan.

A: Jadi pesertanya itu masuk ada daftar atau kalau mau ikut ya ikut aja gitu, Pak?

N: Itu kalau mau pentas ya pesertanya ya enambelas atau duapuluh.

A: Itu pemainnya?

N: Iya. Nnati Warok itu orangnya enambelas atau duapuluh.

A: Yang jadi Cakil ndak bisa jadi Warok gitu? atau bisa jadi dua-duanya?

N: Kalau pesertanya sedikit ya terpaksa nanti main dua itu. Kalau lebih ya ndak. Jadi reog belum ke luar itu (pemain berikutnya) udah dandan. Jadi kalau udah dandan ke luar main, kalau udah tarik dandan lagi untuk tarian berikutnya. Untuk antisipasi kalau ada orang yang payah (kesurupan). Ndak ganggu gitu. Jadi ada urutannya. Jadi kalau ada yang payah itu ya werno-werno (berbagai macam).

A: Satu kali pentas bawa anggotanya berapa, Pak?

N: Mmm. Rata-rata seratus ya lebih. Berapa ya, ya ada 4 mobil. Sound juga.

A: Sound juga dari sini?

N: Iya, sound dari sini. Tapi nyewa, belum kuat beli sendiri.

A: Termasuk penyanyi dangdutnya?

N: Iya, penyanyi dangdutnya, Campursari-nya, musisi dangdut sama Niyaga-nya itu. Jadi kalau mau pentas ya latian dulu.

Reog Pakem Boyolali. Wawancara silakan dibaca di blog: ariesusduabelas.wordpress.com

A: Berapa kali latiannya, Pak?

N: Ya rutin. Mau pentas ya siang jam empat sudah latian. Kalau ndak hujan. Abis Isya’ itu juga bisa.

A: Biasanya latian jam berapa?

N: Jam delapan.

A: Pagi?

N: Delapan malam.

A: Oh iya, kalau pagi kan ganggu kerja, sekolah ya, Pak.

N: Kalau siang ganggu kerja. Hehehe.

A: Semua anak muda di sini ikut, Pak?

N: Ikut. Jadi ndak meninggalkan kerukunan. Anak muda, mayoritas agama Islam. Kalau jumatan ya Jumatan dulu. Jadi semuanya Shalat dulu. Dulu di STSI itu ya 60 orang. Masjid penuh sama rombongan. Kalau main satu hari, ya sorelah, jam satu sudah berangkat, nanti jam tiga sampai jam setengah enam selesai, jadi gak ngganggu agama (shalat). Kalau ada yang payah ya ditangani dulu.

A: Kalau payah itu apa to, Pak?

N: Mendem itu lho Mas. Kesurupan. Jadi kalau mendem itu kan ciu, kalau payah itu ndak sadar. Itu wadag-nya si A tapi orangnya bukan, yang masuki itu. Ada yang dari Jawa Timur.

A: Mohon maaf, itu yang masuki diundang atau dipelihara?

N: Haa, itu kan dulu waktu berdiri itu, ikut mereka. Ya itu namanya, garis Jowone ya nembung (meminta). Jadi “aku tak melu etuk?”, “etuk anggere ora ngrusuhi.” , “nak ngrusuhi ya tandangono” (“aku ikut boleh?”, “boleh asal jangan bikin rusuh”, “kalau rusuh ya nanti diurus.”)

A: Udah janjian berarti?

N: Ya ada to. ada lika-liku. Rombongan lain itu yang pasang gitu, tapi di sini gak mau mengembalikan yaudah nanti resikonya tanggung sendiri gitu. Banyak gitu, kalau gini-gini (mungkin maksutnya adalah agar reog yang kesurupan susah ditangani) atau kalah saingan, kalah bagus, mereka masang, pakai apa ya, iri namanya.

A: Kalau reog bagus itu patokannya apa, Pak?

N: Ya pertama rukun dulu. Nomer satu ya rukun. Terus dari joget yang bagus. Latihan, latihan itu ya tigakali empatkali ya belum bagus. Sinkron sama musisi musik sama Niyaga, sama pengendang juga. Yang berat pengendang itu. Pengendangnya di sini masih muda. Yang tua juga ada. Pakai Tepong.

A: Kalau misal saya jadi penari tapi saya gak mau dimasuki gitu bisa, Pak?

N: Ya gimana ya. Udah nari ya, namanya apa itu ya, “aku ki joget saking senenge nganti ora sadar.” (aku joget saking senangnya sampai tidak sadar).

A: Ini kan ada atraksi liar, pas kesurupan makan beling, tidur di duri salak. Itu pemainnya ndak kenapa-kenapa?

N: Ya ada. Tapi bukan atraksi itu ya. Beling, Api, ada itu. Kan ndak sadar itu. Tapi kalau makan ayam saya ndak mau. Jorok. Makan ayam itu, kotor. Jelek-jelekkin rombongan. Kalau main lain daerah itu ada di mana gitu, ada di lapangan. Itu ada yang dapat Rp. 10.000.000 Rp. 5.000.000.

A: Satu kali pentas?

N: Iya, ngundangnya hanya berapa juta gitu.

A: Oh, maksutnya dapat dari uang parkir ya, Pak?

N: Haa, iya. Kan kalau ada yang mau nonton parkir dulu sepeda motornya. Paling minim ya segitulah. Ada di tempat sini aja dapat Rp. 5.000.000, kotor. Nanti ya ada Polisi, Hansip. Tapi kru itu udah tau ada yang dipakai Polisi, pakai orang yang mau melindungi. Mengijini.

A: Misalkan, anggap dangdut itu sebagai daya tarik. Kalau reog ndak ada dangdutnya, Pak?

N: Hahaha. Ndak bagus.

A: Ramai ndak ya, Pak?

N: Ya ndak ramai. Itu kan penarinya ya, kalau payah ya begitu main dangdutan habis, lagunya itu balik ke musisi gamelan. Balik ya balik. Kendang yang masuk itu. Lagunya Campursari, yang pakai koplo. Namanya orang seneng, kalau nonton itu ya anak kecil, dewasa ya senang. Jadi kalau nonton itu ya lagunya pakai dangdut tapi gamelan juga ada.

A: Pernah ada kejadian pemainnya mengeluh sakit ndak, Pak?

N: Enggak.

A: Jadi yang dimakan itu masuknya ke?

N: Ya, ndak tau ya. Hahaha. Itu yang makan-makan beling, ndak, ndak ada yang sakit. Kalau udah disurupi ya, kalau udah balik semula ya gosong-gosong gitu ya ndak.

A: Kalau misal makan api, kumis itu apa ya terbakar?

N: Nggak. Hahaha.

A: Loh aneh ya. Hahaha.

N: Itu entah, ndak tau ya Mas. Masuk ke raganya anak-anak itu ya ndak tau. Tapi kalau payah itu ya bisa diatur. Kalau gak mau diatur ya ndak boleh.

A: Oh, Jin-nya gitu.

N: Iya. Seandainya orang itu ada yang besari kecil, ya yang besar masuki yang kecil ya ndak boleh. Jadi kalau mau neko-neko ya, yang badannya besar dimasuki orang besar ya dikempit aja orang banyak. Ya, ndak sadar, tapi si penari bisa ngatur. Makanya rombongan bagus. Itu yang sukma-sukma yang masuk ya mengatur mereka sendiri.

A: Jadi, jin mengatur anggota mereka sendiri?

N: Ya. Ya, artinya kalau di masyarakat itu sama-lah. Saya rasa itu sama. Kalau di kadukuhan ya ada RT ada RW. Jin juga ada. Ada yang ngatur gitu-lah.

A: Jadi otomatis mengikuti.

N: Ya, mengikuti. Kalau mau pentas ya itu ke makam dulu. Minta doa restu. Di Makam Kadisono.

A: Semuanya ke situ atau ada tempat-tempat sendiri dari grup lain?

N: Ya, beda. Itu udah aturan sendiri-sendiri. Ya kan kita yang punya makam di sini ya kami ke sini. Minta direstui ke makam itu, nyekar gitu. “Saya nanti ke sana, saya tunggu di tempat pementasan. Ayo datang.” Ya pakai bunga Kantil gitu, pakai ke makam, nanti saya tunggu di tempat pementasan nanti udah ikut dia.

A: Otomatis ya, Pak.

N: Iya, otomatis.

A: Kalau dinalar ndak bisa ya, Pak. Hahaha.

N: Hahaha.

A: Kalau sudah nari biasanya selendang itu diikat maksutnya apa, Pak?

N: Kalau ditali itu ya ndak ada apa-apa. Biar ndak kotor.

A: Jadi ndak ada tujuan lain, katanya itu pembatas dunia lain?

N: Itu kalau ada yang pasang-pasang. Itu orangnya wajar pakai celana biasa, kaos, sudah payah itu kan ada ya. Itu ada orang yang mau iri. Entah ya mengundang hujan, ya niat jelek gitu. Nanti ada kompensasi dari kami. Kami singkirkan hujan itu. Kalau ditolak kan gak bisa to, kalau hujan ya, aslinya di sini dipindah ke sebelah sana.

A: Itu juga sepaket sama reognya?

N: Iya.

Reog Pakem Boyolali. Wawancara silakan dibaca di blog: ariesusduabelas.wordpress.com

A: Kebetulan kemarin di tempat saya hujan, Pak. Dari Krido Turonggo. Itu reog dari daerah sini?

N: Krido Turonggo kan di situ. Kalau di sini kan Pakem. Dulu di situ ndak pakai dangdut. Kalau sekarang pakai. Ya, mengikuti jaman-lah. Kalau di sini ya pasti pakai dangdut. Kadang kalau tuan rumah mampu ya pakai dagelan. Ngundang Dikin atau siapa gitu.

A: Paling jauh sudah pentas ke mana, Pak? Bukan ikut lomba, tapi yang dibayar gitu.

N: Ya, banyak. Sampai Magelang. Kalau musim Sadranan atas itu ya daerah Magelang. Itu tiga hari berturut-turut main terus. Nanti kalau sudah selesai, musisinya pulang semua, terus alat-alat dibawa semua. Biar ndak dimaling. Biar aman.

A: Kalau Kabupaten mendukungnya seperti apa?

N: Ya, baguslah. Dari Kabupaten ada ya namanya inventaris gitu-lah. Cepogo ada di Kecamatan. Tujuhbelasan main. Itu ya meriah. Pake sound, mobil, pakai apa gitu. Ndak sombong ya, musisinya ya Niyaga-nya ya pakai Blangkon, pakai Beskap gitu. Yang berjalan ya reognya gitu, depannya mobil bawa alat, sound, belakang yang nari. Kadang musisi dari rombongan lain itu dipanggil rombongan saya, gak pakai sound ikut rombongan saya jogetnya.

A: Jadi rukun, ya? ndak saingan.

N: Enggak. Kalau ada bantuan ya rombongan lain berapa sini berapa. Rukun. Ndak iri-irian. Tetangga sama yang lain itu ndak pecah.

A: Kalau biasanya direkam, dijual CD-nya itu ada persetujuan dari Bapak?

N: Udah itu.

A: Berarti ada pemasukan dari situ juga?

N: Ya, ada tapi hasilnya cuman sedikit. Rombongan mengedarkan itu. Satu kardus. Ya dua keping tiga keping Rp. 20.000. Asli.

A: Sekalian promosi.

N: Iya.

A: Selain itu promosinya gimana, Pak?

N: Promosinya ya cuman gitu. Pas tampil. Kalau shooting itu ya tuan rumah yang ngundang. Mau dishooting ndak kalau dishooting segini kalau ndak ya segini.

A: Kalau harga berapa, Pak?

N: Iya nanti itu jauh deketnya. Kalau deket ya murah kalau jauh ya mahal. Transportasinya itu kan bayar.

A: Rata-rata?

N: Ya, sekitar Rp. 8.000.000.

A: Lengkap?

N: Iya. Sekaligus dangdut, itu kan bayar juga. Sinden, sound juga. Kalau dekat ya seidkit. Ada yang mau garingan. Seandainya Mas ngundang tapi gak dikasih makan, cuman dikasih roti sama air. Jadi rombongan ya mengeluarkan nasi sebanyak sekian. 150 bungkus apa berapa gitu.

A: Sehari ada berapa tarian?

N: Tiga. Siang tiga, malam tiga. Itru sendiri-sendiri. Yang ke luar siang ndak ke luar malam.

A: Di grup Bapak tariannya ada berapa jenis?

N: Banyak itu. Model-model sekarang itu. Monyet, Cakil, Kuda. Banyak kok, Warok, Buto. Ada yang Buto itu ya pakaiannya kayak Buto.

A: Ngambilnya dari Leak Bali?

N: Yaiya, ada dari Bali nyerapnya.

A: Itu dipilih dari yang mengundang apa Bapak yang memilih tampilannya?

N: Nanti ya yang minta yang mengundang. Supaya yang ngundang itu puas. Joget ngene iki kok sing lawas aku seneng. Ada yang lupa ya latihan dulu.

A: Semua seragamnya ada berapa, Pak?

N: Wah, banyak.

A: Yang kalau tiap tampil pasti tarian itu ada apa, Pak?

N: Warok, Prajuritan, Topeng Ireng. Itu mayoritas kan anak kecil. Itu orangtua ya menjaga, jangan ke mana-mana. Kalau mau nonton ya nonton. Biar ndak ganggu.

Advertisements