Wawancara Dengan Aparat Desa Gubug, Boyolali

ekowisata_taman_air_tlatar_boyolali_05

Ini adalah hasil wawancara saya, Ariesusduabelas (A) dengan Heru (H) wakil Kepala Desa Gubug, kecamatan Cepogo. Sebelumnya, saya diminta menemui Kepala Desa di Kantor Kecamatan Cepogo, yang kalau dari Kantor Desa Gubug jalannya cukup membingungkan. Banyak lewat area tegalan, dan sepi. Sampai di sana, Beliau malah meminta saya kembali ke Kantor Desa menemui sekretaris desa.

Ada perasaan sedikit takut yang saya tangkap dari wajah Kepala Desa saat itu. Beliau sedang sibuk, begitu katanya. Saat saya ke sana, juga ada mahasiswa S-2 yang mau mewawancarai Kepala Desa Gubug, tapi nasibnya sama seperti saya. Hanya, dia meminta wawancara di lain waktu, tidak bisa dialihkan ke narasumber lain.

Wawancara dengan Pak Heru (Sekretaris Desa Gubug) ini juga setelah persetujuan yang alot. Draft apa yang mau saya tanyakan diminta oleh Beliau, dan meminta wawancara jangan melenceng ke mana-mana. Dan pada akhirnya, ya, wawancara tidak berkembang dengan baik.

Ini hasilnya, tanpa proses edit.

A: Tadi kebetulan saya belum kenalan dengan Kepala Desa Gubug di Kantor Kecamatan Cepogo, sepertinya beliau sedang sibuk juga jadi wawancara ini dilimpahkan ke Bapak Heru. Jadi siapa nama Kepala Desa di sini, Pak?

H: Beliau Kanthi Lestari.

A: Mulai menjabat tahun?

H: Dia mulai menjabat tahun 2013.

A: Selesai berarti tahun..

H: Itu PJ, mas. Pejabat. Beliau ditetapkan dari Kabupaten karena Kepala Desa di sini meninggal sebelum purna tugas.

A: Sementara?

H: Iya, sementara.

A: Terus Pak, gambaran umum dari desa Gubug sendiri seperti apa? Apa yang menarik dari desa ini?

H: Kalau Gubug yang menarik itu kesenian. Soal kalau urusan potensi, atau pendapatan atau apa gitu kurang. Kalau dulu, pernah ada kerajinan tembaga, tapi setelah tembaga harganya mahal, diganti alumunium sekarang tinggal sedikit.

A: Yang menonjol dari segi kesenian, yang lain ndak?

H: Iya, hanya kesenian. Yang lain tidak ada yang menonjol. Kalau industri-industri rumah tangga paling juga ya biasa.

A: Jadi mayoritas pekerja seni?

H: Ya bukannya seperti itu.

A: Hanya sampingan?

H: Iya. Itupun juga sebagai hiburan. Hanya untuk senang-senanglah istilahnya.

A: Mayoritas berarti?

H: Ya masih petani. Kalaupun ada yang muda-muda itu ya jadi karyawan swasta.

A: Dengan adanya kesenian apa pengaruhnya bagi desa?

H: Ya, cuman sebagai penghibur masyarakat saja. Jadi, ya mungkin di daerah lain bisa dikenal karena kalau kita melihat seperti Pakem sampai ke mana-mana, pernah ke Malang, Madiun, istilahnya ya desa Gubug bisa lebih dikenal-lah.

A: Kalau bisa lebih dikenal berarti ada daya tarik untuk datang ke sini, segi wisata di sini?

H: Jarang. Wisatanya masih kurang. Cuma dia (Pakem) hadir ke mana-mana kan kalau diundang. Kalau yang datang ke sini yang melihat langsung ya ada cuma kan kalau ndak pentas ya ndak ada. Ya khusus kalau pentas aja ke sininya. Tapi paling tidak, kalau reog di sini pentas katakanlah dari segala penjuru ya pasti banyak sekali yang datang. Soal di sini ada banyak, itu di Bener ada juga namanya Krido Turonggo, kemarin pernah main di Taman Mini Jakarta bisa menjuarai. Itu bukan Pakem, tapi Krido Turonggo. Terus ada lagi kemarin itu Ngesthi Budoyo tampil di Borobudur.

A: Festival?

H: Iya festival. Jadi setelah Borobudur itu ke Semarang, itu juga festival. Jadi kalau sini dilihat yang menonjol dari luar, seninya memang yang menonjol. Seni Jathilan.

A: Berapa banyak, Pak. Satu desa Gubug itu ada berapa grup reog?

H: Ada tiga. Yang lain itu, ya ada tapi jumlahnya ya ndak pasti. Kemarin yang dari Pakem itu juga ada yang dari luar, jadi jumlahnya itu ya, ndak bisa (tertawa). Pakem itu kan terdiri dari dua, ada grup katakanlah seperti itu, jadi Niyaga sendiri yang main (reognya) sendiri. Jadi ada gamelan, ada alat musik sekaligus campursari jadi sekaligus bisa dangdutan. Untuk jenis tarian yang ditampilkan kan bermacam-macam. Ada Topeng Ireng ada Petruk Pecuk atau apa itu namanya, terus ada lagi raksasa-raksasa yang kayak Warok, Warok sendiri juga ada. Lima jenis tarian itu ada.

A: Mayoritas pendidikan desa Gubug seperti apa?

H: Mayoritas. Seluruh desa ya masih rendah, Mas. SMP SMA gitu yang muda-muda sekarang. Kalau yang periode saya, itu paling SD. Pendidikan masih rendah. Tapi saat ini, anak-anak muda SMP SMA yaudah banyak.

A: Oh iya, di sini kan mayoritas petani, itu sebagai tuan tanah atau penggarap? Soal kan ada banyak warga desa yang tanahnya dibeli orang kota gitu.

H: Itu milik sendiri. Juga ada satu dua buruh tani. Tapi kebanyakan ya tanah punya sendiri. Hanya kadang nyambi tukang batu, tukang kayu, karyawan swasta pabrik, atau yang tua tua itu ke daerah Ampel jadi karyawan dendeng gitu-gitu.

A: Kalau ditanya ke arah kabupaten, apa yang kurang dari Bupati ke desa Gubug sendiri?

H: Maksutnya seperti apa?

A: Kayak infrastruktur atau dana yang kurang untuk kegiatan Pemerintahan di Desa gitu, Pak?

H: Kalau di sini juga jalan, jalan itu. Tapi gimana ya, kalau jalan bagus dilewati satu tahun, mungkin lima tahun juga jelek lagi.

A: Oh iya, kan kontur tanah juga berpengaruh, ya Pak.

H: Nah, iya. Tapi paling tidak, ya ada. Kalau yang lain ya JUT, Jalan Usaha Tani, jalan yang masuk ke tegal-tegal, itu memang yang paling dibutuhkan. Karena sampai sekarang masih banyak yang kalau cari rumput atau kayu atau apa gitu kalau pakai sepeda motor bisa masuk tapi ke luar susah gitu.

A: Kalau di Semarang, praktik Politik uang itu masih ada gitu utamanya di desa, kalau di Boyolali sendiri seperti apa?

H: Maksutnya?

A: Aaa, kayak calon Bupati gitu pak, ke sini menemui Kepala Desa untuk meminta dukungan nanti kalau tidak kayak proposal yang diajukan ke Kabupaten dipersulit gitu, Pak?

H: Saya rasa ndak ada. Tapi ya biasa aja. Yang saya rasakan lho di sini, saya rasa berjalan baik. Partai A B yang datang juga biasa saja.

Advertisements

2 responses to “Wawancara Dengan Aparat Desa Gubug, Boyolali

Comments are closed.