Film “Fury” dan Opini Diplomasi di dalamnya

FURY

Film “Fury” dirilis pada 17 Oktober 2014 di Amerika Serikat. Merupakan satu dari sebagian film yang memuat secuil kisah kelam prajurit di medan pertempuran (Perang Dunia 2) antara dua Negara, Amerika Serikat dan Jerman. Dilihat dari aspek Hubungan Internasional, perang merupakan pengaplikasian dari hard diplomacy setelah soft diplomacy (perundingan) tidak mencapai kesepakatan. Dengan catatan, pada masa sebelum perang dunia 2, belum ada konsep soft diplomacy dengan membuka kantor kedutaan di Negara lain. Jadi, film ini, sebenarnya menggambarkan secara utuh atau hard diplomacy dengan perang.

Dunia menilai perang dunia 2 dimulai oleh Jerman yang dipimpin Adolf Hitler yang membangkitkan semangat Jerman sebagai negara yang kalah di Perang Dunia 1. Didukung dengan persenjataan yang mumpuni Jerman  memulai ekspansinya. Dengan paham fasisme yang kuat akibat kekecewaan terhadap pemerintahan yang mengekor pada Perjanjian Versailles yang merugikan Jerman, Adolf Hitler yang kemudian tampil sebagai penguasa, bersekutu dengan Jepang dan Italia untuk misi balas dendam.

Sementara pada film “Fury” hanya mengisahkan aksi heroik prajurit di medan pertempuran yang dipimpin Sersan Wardaddy (Brad Pitt), Bible (Shia Labeouf), Gordo (Michael Pena), Gardy (Jon Bernthal) dan Norman (Logan Lerman) yang harus menguasai blok pertahanan Jerman dari satu kota ke kota lainnya dan mendudukinya. Misi tersebut dibuat fantastis karena jumlah tentara Jerman lebih banyak daripada tentara Sekutu, begitupun dengan alat perang yang dimiliki tentara sekutu kalah canggih dari tentara Jerman. Kesulitan ditambah ketika tank sekutu yang awalnya empat tersisa satu yaitu tank yang dikomando oleh Sersan Wardaddy bernama “Fury”.

Walau pada akhirnya, tank “Fury” hancur akibat dikepung oleh pasukan sekutu dan 4 awaknya mati, hanya tinggal Norman seorang yang selamat. Perjuangan Sersan Wardaddy mempertahankan perintah dari atasan demi tugas negara yang membuat film ini bernilai lebih. Ada semangat nasionalisme seorang prajurit di dalamnya. Yang di akhir ditebus dengan direbut kembali kota oleh pasukan tank pembantu yang menduduki kota.

“Fury” hanyalah film yang terkotak di pertempuran yang dihadapi oleh Sersan Wardaddy dan prajuritnya. Tidak ada perundingan, atau semacam diplomasi secara umum yang ditampilkan di film ini selain pertempuran tentara Jerman dan Amerika Serikat. Memang, perang dunia 2 merupakan hasil dari balas dendam oleh negara-negara yang kalah dalam Perang Dunia 1. Semangat ekspansi Jerman, kekejaman terhadap penduduk Austria dan sikap Hitler yang memutus sepihak Perjanjian Versailles membuat blok sekutu menambil langkah dengan peperangan.

Memang pada masa perang tersebut, belum ada Negara di dunia yang sadar akan pentingnya ‘penyambung lidah’ dari Negaranya sebagai juru bicara yang ada di Negara lain. Pasca perang dunia 2, atau saat ini, praktik Hard Diplomacy yang menjadi tayangan utama dalam film “Fury” mulai ditinggalkan dan Negara mulai memperkuat Diplomasi berbasis budaya yang dinilai memberi banyak keuntungan. Kalaupun ada, sebagai contoh ada di daerah Timur Tengah.

Note: Ini adalah blog sisa. Disalin dari tugas opini yang harus dikumpulkan besok di kuliah Pengantar Diplomasi. Saya, masih harus lembur tugas materi Kewarganegaraan: Makalah. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s