Dua Puluh

TIUNG

Terhitung hari ini, saya berusia duapuluh. Tanpa embel-embel. Sebuah perayaan kecil diadakan di rumah. Kali ini, tidak ada nasi kuning, lalapan sayur, tempe dan telur rebus. Sedikit istimewa, dan tidak mau ribet, adik membelikan kue coklat. Tanpa lilin.

Kue dipotong, doa secukupnya. Karena saya tau, tidak perlu banyak doa. Tidak semua terkabul.

Tiga orang di rumah, termasuk saya, mendapat porsi seperlima dari kue. Yang lain, dibagi ke tetangga. Sisanya, untuk seseorang yang peduli dengan saya. Sangat peduli hingga saya sering alpa membalas kepeduliannya.

Sudah. Tidak perlu berpanjang lebar. Karena yang panjang dan lebar, sakit masuknya.

Advertisements

2 responses to “Dua Puluh

Comments are closed.