Perilaku Boros Masyarakat Indonesia

Sifat hemat orang Jepang memang tampak pada beberapa hal dalam kehidupan sehari-harinya. Menyebut seorang Jepang pemboros merupakan penghinaan yang amat besar, yang akan menimbulkan reaksi yang agresif. Sebaliknya, apabila seorang Indonesia disebut pemboros, ia jarang akan benar-benar marah. Pujian yang menyatakan kekaguman akan sifat mahal dari sesuatu barang milik seorang Jepang akan membuatnya malu secara murni (bukan malu yang dibuat-buat). Seorang Indonesia, terutama pada masa kini, sungguh akan puas hatinya apabila kita kagumi kemewahan rumahnya dan cahaya gemerlapan dari perhiasan isterinya.

***

Bali Street Market #2

Saya sedang senang-senangnya membaca buku. Terutama buku-buku lama. Tulisan di atas diambil dari buku “Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan” yang ditulis Koentjaraningrat.

Saya sadar, kemampuan menulis saya yang buruk diawali oleh ketidaksukaan saya membaca. Apalagi membaca buku yang berat dengan bahasa yang rumit. Buku karya Koentjaraningrat salah satu bacaan berat yang isinya bisa saya mengerti.

Bagaimana rupa masyarakat Indonesia saat ini, dengan masyarakat Indonesia ketika buku ini ditulis tidak terlalu tampak perbedaan yang signifikan. Perbedaan yang mungkin ada adalah jawaban mereka yang lebih intelek dan cerdas dibanding masyarakat di tahun 80-an perihal kenapa membeli barang-barang mahal dengan harga selangit.

Memang hal ini, kalau dilihat dari sudut pandang lain, perilaku gemar membeli barang mewah adalah contoh dari semakin tingginya tingkat daya beli yang secara langsung memiliki artian tingkat kesejahteraan meningkat.

Kembali ke patokan awal tulisan Koentjaraningrat selain berkaca pada era sosial media saat ini yang secara langsung ikut menambah perilaku bermewah diri masyarakat saat ini. Bahwa, ada yang salah dari apa yang dikonsumsi masyarakat itu sendiri. Kenapa tidak ada perubahan dari perilaku berbangga dengan produk mewah selama ini?

Tanpa ada upaya menghakimi. Kenapa lebih banyak yang menyukai produk bangsa lain daripada produk dalam negeri sendiri? Pergeseran kultur yang anomali dengan kepribadian bangsa seolah menjadi suatu hal yang lumrah.

Pride adalah kata yang sering mewakili jawaban atas pertanyaan ini. Lalu timbul masalah lain yang harus dipecahkan oleh pelaku industri, membuat produk yang kalau dipakai konsumen dalam negeri mewakili pride yang mereka miliki.

Note: Tulisan ini muncul begitu saja kala membaca buku yang dimaksut. Timbul ide untuk menulis masalah yang sama dalam konteks yang lain dengan ide yang baru dan cerdas yang didukung oleh pendapat dosen sosial saya. Oleh karenanya tulisan ini saya hentikan. Jadi, nantikan saja di blog ini tulisan yang berkualitas tersebut. 😀

Advertisements

3 responses to “Perilaku Boros Masyarakat Indonesia

  1. Indonesia punya batik yang merupakan ciri khas negeri ini. Dan bukannya itu termasuk pride bagi kita? I mean, Batik is original from Indonesia. Tapi mereka jarang pakai batik–bahkan pakai batik di hari biasa dibilang mau kondangan. How come? Mereka akan berkoar-koar batik milik Indonesia kalau diklaim :/

    Like

Comments are closed.