Buku: Nilai – Nilai Pendekar Pejuang Prabowo Subianto

Judul lengkap: Nilai-Nilai Pendekar Pejuang. Prinsip Berpolitik, Berbisnis dan Menghidupi Hidup Letjen TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto. Oleh: Dirgayuza Setiawan.

Buku ini sedikit mengenalkan seperti apa Prabowo Subianto. Apa yang ia pegang sebagai prinsip hidup, prinsip berpolitik dan berbisnis. Walau tidak mengenalkan Prabowo secara keseluruhan, tapi sedikit mengenal lebih baik daripada tidak sama sekali. Saya pribadi, bukanlah simpatisan beliau. Jujur saja, semangat beliau yang membara tentang Indonesia sebagai Macan Asia mengalahkan saya yang tiga kali lebih muda. Satu kata yang masih melekat kepada beliau adalah arogan.

Jangan tanya saya kenapa karena jawabnyapun saya tak tau mengapa.

Buku ini ditulis oleh Dirgayuza Setiawan, Ketua Bidang Media Sosial dan Informasi Publik DPP Partai GERINDRA. Ini kelemahannya untuk saya. Buku ini menceritakan Prabowo Subianto, orang nomor satu di GERINDRA oleh anggoga partainya sendiri. Sesuatu yang masih mengganjal.

Tapi lewat buku ini, sesuatu yang mungkin tidak diketahui publik disebarkan. Seperti prestasi beliau membantu warga daerah sekitarnya di desa Bojong Koneng. Dan sederet prestasi lain dalam bidang olahraga, polo berkuda, pencak silat, dan menjadikan GERINDRA sebagai partai politik dengan transparansi proses dan transparansi keuangan terbaik.

Mohon maaf kalau saya salah sebut, buku ini seperti ensiklopedi prestasi Prabowo Subianto. Atau memang seperti ini layaknya buku biografi? Bab seperti Nobblesse Oblige menurut saya terlalu, apa ya? Megalomaniak? Siapa yang diberkahi dengan kebangsawanan memiliki kewajiban dan tanggung jawab sosial. Halaman 134 hingga 138 bahkan menjelaskan dari mana Prabowo berasal. Dari garis keturunan kakeknya, maka diujung atas garis ada nama Sri Pamekas Nata ing Pajajaran, dari sisi nenek ada nama Adipati Tuban. Bangsawan.

Tak ayal mengapa prinsip yang Prabowo pegang terkait dengan prinsip masyarakat Jawa yang kental.

Sebagai penutup, saya tulis quotes di buku ini “Kalau orang baik diam, yang berkuasa adalah orang jahat dan tidak baik. Karena itu, kita harus ajak semua orang baik di lingkungan kita untuk peduli dan ikut berpolitik – kalau tidak, Indonesia tidak akan bisa gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja”

Posted from WordPress for Android

Advertisements