Money Politics and The Voice

image

Ilustration by Steve Cutts. oleh ariesusduabelas di Flickr.

Money Politics! Awalnya saya tidak memikirkan hal ini. Semenjak Lukman Fahmi, dosen politik saya menjelaskan apa saja hal negatif yang timbul akibatnya, saya jadi interest and have to do something gitu, but what?

Di lingkungan kelurahan saja, sudah ada teken kontrak berbiaya dari para calon bupati. Oke, saya di kabupaten Semarang. Pasti kamu tau-lah siapa saja calonnya, ya ada salah satunya yang meneken kontrak dengan lurah, yang artinya seluruh desa ikut memilih pasangan itu. Calon bupati, selain memberi uang, juga berjanji membenahi jalan, dan memudahkan urusan kelurahan mengajukan apa-apa yang berkaitan dengan uang, tinggal ajukan proposal dan pasti diterima.

Saat ada sesi ngudarasa saya berkata kegelisahan jika praktik ini dilakukan. Tapi, kalau tidak mau ikut, kelurahan saya terancam susah di kemudian harinya. Jadi, hal ini menjadi seperti simbiosis mutualisme yang membodohkan dan merusak dari dalam. Tak ada perhitungan rekam jejak calon pasangan di Pilkada. Suara jadi tak berharga lagi. Apalagi suara saya, si anak kemarin sore yang masih semester satu kuliah politiknya tapi sok tau di depan orangtua.

Duh!

Posted from WordPress for Android

Advertisements