Sedikit Mengenai Pathetic Waltz

image

Source: blog.patheticwaltz.com

Ini adalah tugas dari saya untuk saya sendiri: menulis tulisan yang bagus dan layak baca. Kali ini, saya mau ambil dari yang saya kenal dulu, Pathetic Waltz. Pathetic Waltz adalah wujud fenomenalnya lagu Pure Saturday berjudul sama di album “Utopia”. Alta Karka, Julius Didit dan Andi Getta memilih nama itu sebagai nama band mereka saat perjalanan pulang menonton Djakarta Atmosphere di Senayan 2011. Andai saja mereka tidak menyaksikan Pure Saturday memainkan lagu “Pathetic Waltz” saya sangsi, mereka bertiga menamai band-nya Pathetic Waltz.

Tiga tahun ngeband, punya delapan lagu tapi belum rekaman membuat gusar juga ternyata. April 2014 mereka merekam lagu-lagunya di studio rumahan di daerah Ngargoyoso, Karanganyar. Niat rekaman hanyalah niat tanpa didukung alat yang lengkap, “Soundcard beli sendiri, wara-wiri Solo-Jogja, karena sempet rusak setelah baru seminggu beli, nunggu garansi servis, sempat pending beberapa pekan tapi akhirnya kelar dalam tiga bulan rekaman di rumah sendiri, direkam sendiri, operator gantian, bener-bener nginep.” cerita Alta.

Perjuangan mereka berbuah hasil, mereka ditawari label anyar di Solo, Rambowadon, untuk merilis album pertama mereka dalam jumlah terbatas di tanggal 18 April 2015. Pesta rilis sendiri diadakan di Double Decker, Solo pada 21 April. Saat ditanyai respon terhadap kaset rilisan mereka, Alta mengaku puas. Bahkan ada beberapa pengunjung yang meminta wholesale plus tandatangan mereka dari Jakarta. Urusan itu, mereka serahkan ke label.

Mereka adalah sosok yang sederhana. Musik mereka bernuansa pop. Ada juga yang bilang folk. Saya mengiyakan saja, yang jelas lagu mereka enak didengar. Saya sederhanakan saja. Track berjudul “Malam” menjadi favorit saya. Saat diputar di malam hari, “Malam” seperti berdaya magis. Refleksi diri terhadap apa yang telah dilalui ataupun yang akan datang.

Menuju kebebasan kita mencari apa yang disebut diri sendiri
Dalam kegelapan kita coba mengerti sesuatu apa yang kita ingini

Kalau dicermati, penggalan lirik di atas bisa dibilang puitis. Kontradiktif dengan mereka yang menyebut Pathetic Waltz adalah band brengsek. Rupanya, brengsek di sini lebih dalam artian nekat. Mereka bukan orang punya, yang serba ada, yang kegiatan bermusiknya disokong oleh modal dan alat yang mumpuni untuk rekaman. Mereka juga kurang skill, mereka mengakuinya. Saat disindir sendiri oleh Rambowadon bahasa Inggris mereka amburadul, mereka mengakui dan berkelakar mungkin karena dulu di sekolah jarang masuk kelas bahasa Inggris. Serba terbatas. Walau kekurangan, walau alat pinjam sana pinjam sini. Tetek bengek itu mampu disiasati, merubahnya dari minus menjadi surplus.

Kalau saya nilai, lagu mereka juga serius dan bernilai saat diputar. Misal lagu “Plastik Bekas”, adalah wujud ekspresi mereka terhadap isu lingkungan hidup. Walau bukan yang pertama mengangkat isu lingkungan hidup dan mengajak kita kembali lagi menggiatkan “Go Green”, tapi sudut pandang mereka juga patut didengarkan.

Pathetic Waltz adalah band baru. Seperti band baru diawal karir, mereka masih sepi panggung. Kota Solo masih menjadi arena bermain mereka. Fuck off it all, setidaknya mereka pernah sepanggung dengan Mocca saat gelaran Heaven On Stage di Taman Balekambang, Solo. Terbuka luas kemungkinan mereka di masa mendatang menyamai kesuksesan Mocca, bahkan melebihinya.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s