Mmmmh! dan Perbincangan Asyik Dengan Pathetic Waltz

image

***

Ini perbincangan saya dengan Alta Karka dari Pathetic Waltz. Sudah lama sebenarnya, sejak 27 April lalu. Telat sekali postingnya. Ah, yasudah. Silakan menikmati.

Dalam sebuah interview dengan Rambowadonrecs, Pathetic Waltz itu band brengsek. Brengsek dalam artian apa?

Kami itu nekat. Kami bukan orang punya, yang serba ada. Semua terbatas, dari skill, menal sampai alat. Tapi kami punya kemauan dan tekad buat rekaman dan rilis album. Padahal kami tuh bukan musisi. Bukan pula murid seni. Kalo Rambowadon bilang, cerdik menyiasati minus menjadi surplus. Dan toh, akhirnya kami bisa rekaman dan rilis album juga.

Alasan memilih rilis di Rambowadon apa? Kan mereka label baru.

Kami yang pilih Rambowadon. Kebetulan tawaran mereka sangat menarik, selain membuat rilisan kaset dalam jumlah terbatas, mereka juga membuatkan release party di sebuah kafe yang penuh beer. Sesederhana itu saja. Hehehe.

Haha. Infonya ada 50 rilisan pertama kalian, ya? Respon rilisan kalian bagaimana?

Responnya bagus. Beberapa malah minta wholesale plus sign in gitu, dan itu dari Jakarta. Tapi biar label yang urus. Beberapa teman banyak yang support juga, mungkin karena penasaran dengan hasil rekaman yang serba terbatas tadi.

Besar skill Kalian mumpuni. Buktinya teman-teman di Jakarta menyukai karya kalian. Apa ada kaitannya dengan internet? Sejauh apa peran internet bagi Kalian?

Gak juga. Hahaha. Skill kita pas-pasan, malah kurang. Iya karena pertama adala pertemanan dan internet. Ada begitu banyak manfaat sebenarnya yang didapat dari internet. Selain teman juga ilmu. Tinggal gimana memanfaatkannya aja. Kita berani mixing dan mastering sendiri juga belajar dari internet. Hahaha.

Siapa penulis “Malam”? Prosesnya seperti apa?

Yang nulis Getta, gitaris kita. Bahkan versi aslinya masih ada di Soundcloud. Berawal dari keresahan, kemudian bertemu malam dan merenung, lalu menulis apa yang ada di pikiran. Setelah itu baru direkam, denan beberapa efek delay. Rekamannya juga dibuat waktu malam, sengaja untuk mendapat mood lagu tersebut. Take – retake – experiment – retake – hasil. Kalau versi akustik di album, set terakhir, ada suara hewan malam seperti jangkrik dan sebagainya yang direkam langsung dari teras rumah.

Itu saya pikir suara efek, ternyata suara jangkrik betulan? Bicara event, Pathetic Waltz sudah main ke mana saja?

Kalau soal main masih di sekitar Solo aja sih. Belum ke mana-man, mau ajakin mungkin? Hehehe.

Andai saya punya modal atau kaya raya sekarang. Hahaha. Apa perasaan kalian pas di atas panggung?

Kalau perasaan masing-masing pribadi bisa beda-beda karena secara personal hakikatnya berbeda. Tapi, bagi saya pertama senang, “eh band-ku ditonton yang punya Reverbnation nih atau Spotify”, mungkin dengan itu bisa merubah emosional buat main bagus demi dapet modal rekaman dan lain-lain. Atau bahkan malah sebaliknya, “Yaudah main semampunya aja, kalau bagus ya beruntung, kalau jelek berarti apes. Mau Anda tertarik atau nggak toh kita jadi diri sendiri” gitu sih.

Pertanyaan terakhir, harapan di tahun 2015?

Mmm. Oktober rekaman lagi. Bisa tur ke kota lain, bahkan luar pulau kalau bisa. Kami suka travelling, pengin liat keindahan alam tempa lain. Band-band dari Solo mulai diperhatikan di kota lain, dan begitu sebaliknya. Makin banyak teman berbagk keceriaan, dan tidak sungkan berkomunikasi.

Posted from WordPress for Android

Advertisements