Membandingkan TULUS “Sepatu” dan FRAU “Mesin Penenun Hujan”

Sebuah iseng di pagi hari: memutar lagu dari TULUS “Sepatu” dan FRAU “Mesin Penenun Hujan”, lalu membandingkan mana lirik yang lebih cerdas di antara keduanya.

FRAU di “Mesin Penenun Hujan” bercerita kurang lebih tentang perpisahan yang tidak harus diratapi dengan kesedihan yang berlarut-larut. Tapi menyikapinya dengan ‘dewasa’, merelakkan dia menemukan seseorang yang membuat dia lebih baik. Lebih bahagia. Yang pada akhirnya, kita akan menemukan pula jalan kebahagiaan kita sendiri.

“Dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan. Tapi takkan lama ku kan jadi awan”

Sementara “Sepatu” telah diakui banyak musisi dan pengamat musik sebagai lirik lagu paling cerdas yang pernah ada. Untuk saya sendiri lagu ini tidak hanya tentang cinta, tapi juga takdir, pengharapan, dan kisah romantisme. Bahkan, unsur komedi turut pula, bagaimana tidak? Menciptakan masterpiece lewat sesuatu yang dekat dengan kita: sepatu.

Benar-benar cerdas.

Tapi, tentang lirik siapa yang lebih baik? Tetap saja, baik saya, atau Anda juga kesulitan membandingkannya.

Advertisements