Jiwasraya tidak hati-hati

Budi Frensidy, di kolom Wake Up Call Kontan:

Jiwasraya tidak menerapkan prinsip kehati-hatian untuk investasinya. Dari total aset finansialnya, 22.4% atau Rp 5.7 triliun berisi saham dan 59.1% atau Rp 14.9 triliun dalam bentuk reksadana. Sampai di sini belum ada yang mencurigakan.

Namun jika kita bedah isi masing-masing kelas aset itu, ketidakwajaran akan terkuak. Dalam portfolio saham, ternyata hanya 5% saham LQ-45. Sementara reksadana yang dimiliki hanya 2% yang pengelolaannya adalah manajer investasi top tier dari 13 manajer investasi yang bermitra. Sejatinya, pengelola bukan top tier tidak jadi masalah selama ada pedoman tata kelola yang jelas untuk penyusunan portfolio, strategi pemilihan saham dan kebijakan trading-nya.

Yang terjadi, sepertinya tidak ada panduan itu. Sejumlah reksadana justru dibuat khusus untuk menampung atau mengambil di pasar negosiasi (pada harga di atas harga perolehan) saham-saham kemahalan (overpriced) yang telah dibeli Jiwasraya. Reksadana ini kemudian dibeli lagi oleh Jiwasraya.

Pangkas birokrasi siput

Pemangkasan eselon III dan IV yang disertai penghapusan kekuasaan dan fasilitas tunjangan itu hendaknya tidak menimbulkan gejolak. Pada saat bersamaan, pemerintah perlu memikirkan anak tangga pembinaan karir yang selama ini melewati jenjang eselon.

Jujur diakui bahwa lima tingkatan hirarki birokrasi itulah yang membuat kinerja pemerintah bergerak sangat lamban. Saking lambannya itu disebut birokrasi siput. Pola pengambilan keputusan birokrasi siput ialah dari eselon I turun ke eselon II diturunkan lagi ke eselon III, IV, baru dari bawah naik lagi. Akibatnya, pengambilan keputusan jadi sangat lambat.

Birokrasi ASN hanya dikelompokkan menjadi tiga jabatan. Kelompok pertama jabatan administrasi, kedua jabatan fungsional, dan ketiga jabatan pimpinan tinggi.

Ini dari editorial Media Indonesia edisi 2 Desember 2019.

 

Many people are..

Lima koran tiap hari

Kontan, Republika, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, Kompas. Semuanya edisi hari ini, 27 November 2019. Dikirimi oleh broker, formatnya PDF. Begitu tiap hari. Sampai kadang, ada koran yang tidak kebagian waktu: dihapus sebelum dibaca. Sedikit miris, semoga karya jurnalistik di dalamnya, dibaca orang lain.

Atau saya beli flashdisk khusus? Untuk menyimpan koran PDF itu. Supaya bisa saya baca di lain waktu.

Postingan setelah ini, adalah kliping dari laporan koran-koran itu.

Belakangan saya lebih menghabiskan bacaan di rubrik sepakbol. Di mana pun. Paling banyak di Detik Football, Skysport, dan tentunya Pandit Football. Juga menggali beberapa preview pertandingan — kalau ini sih, yang keluar pertama di pencarian itu yang saya baca.

Ada orang berpikir gini: “too much information will kill you”.

Benarkah? Apa bukannya kalau orang banyak baca, jadi lebih banyak tahu. Obrol sama orang bisa lebih nyambung. Karena wawasannya luas.

Apapun lah ya. Saya mau tonton Youtube dulu.

Jangan kasih kendor

Postingannya cuma #AyoIndonesia saja!

Update 5.03 p.m Indonesia menang, dua gol tak berbalas. Gol pertama, Egy Maulana. Gol kedua, Osvaldo Haay melalui skema serangan balik. Cukup ketar-ketir awalnya. Saya selalu teringat soal pemain depan yang tinggal berhadapan dengan kiper, itu skill jadi nomor sekian. Yang pertama adalah insting mencetak gol, kedua adalah kedewasaan, ketiga ketenangan. Beruntung, Osvaldo kali ini bisa menuntaskannya. Goal yang bisa killing game. Nadeo cetak cleansheet pertama, semoga laga kedua juga bisa demikian. Kalau sama U-22 sih saya begitu yakin sampai, minimal perempat final.

Pahlawan tidak kelihatan

Namun, dalam sebuah tim sepakbola, kerap ada “unsung heroes”. Para pahlawan yang luput dari perhatian orang banyak. Bagi Barcelona, orang tersebut adalah Sergio Busquets. Sebagaimana sering ditekankan oleh penulis sepakbola favorit saya Pangeran Siahaan, Sergio Busquets adalah salah satu elemen krusial dari keseluruhan ritme tim Barcelona. Hanya karena nyaris tidak pernah melakukan aksi spektakuler saat menggocek atau mencetak gol, banyak yang tidak menyadari pentingnya Busquets.

Barisan penyerang Barca bisa beraksi dengan tenang, karena Busquets berada di belakang mereka. Siap untuk menjadi penghadang yang cerdik dan siap mengantisipasi serangan lawan. Bagi Busquets, yang penting bukan tampil atraktif, tapi efektif. Tackling dan distribusi bola ke barisan depan jauh lebih penting dibandingkan mencetak assist atau gol. Singkat kata, bagi timnya, Busquets adalah penyeimbang.

Dan dalam “tim” rumah tangga kami, istri saya adalah Sergio Busquets. Ia adalah penyeimbang. Saya boleh jadi bagaikan Lionel Messi, menciptakan peluang dan mencetak “gol”. Tapi tanpa jangkar yang menjaga keseimbangan kapal, rasanya hal itu tidak mungkin.

My wife Meira Anastasia is the “unsung hero” in my career. She’s the steel in the walls. She’s the glue that holds everything together, so that I don’t crumble. Dan persis seperti Busquets, tidak banyak orang yang bisa paham, betapa penting peranannya dalam “tim” kami.

Kadang saya bisa balik ke blog orang karena ada catatan yang ditulisnya mengena di kepala saya. Salah satunya catatan Ernest Prakasa di blognya ini, “Istri Saya = Sergio Busquets“. Baca penuh klik link tersedia. Catatannya begitu masuk, menyerap di kepala saya.

Bagus, bukan?

Baca ulang buku tipisnya Puthut EA, ‘Para Bajingan yang Menyenangkan’.

Cara kerja jurus ini begini: misalnya Anda dalam rangkaian Piala Eropa kali ini menang total Rp 5 juta. Di laga terakhir atau final, Anda pasangkan semua. Kalau menang ya sekalian menang banyak. Kalau kalah ya kembali ke fitrah. Asalnya tak punya saldo apa-apa, lalu punya saldo positif di bandar, balik lagi enggak punya apa-apa. Manusia adalah fana, judi abadi.

Sebagai orang yang gemar berjudi, Bagor selalu punya alasan untuk hobinya itu. “Lihatlah para penjudi bola itu. Sebelum pasang taruhan, mereka mencari informasi sebanyak-banyaknya. Lalu menganalisis. Berarti itu menggunakan akal pikiran dengan maksimal. Positif, bukan?”

“Lalu ketika pasang, mereka berdoa dulu. Mengingat Tuhan. Positif, bukan? Sepanjang pertandingan, dalam hati mereka juga selalu berdoa agar klub jagoan mereka tidak kebobolan. Bagus, kan? Ketika mereka menang, mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan. Bagus, bukan?”

Yang suka bola nonton berapa pertandingan weekend kemarin? Saya agak banyak. Lebih banyak dari biasanya. Sulit meranking laga seru satu di banding lainnya. Persipura menjamu Persebaya, monoton sekali. Tapi saya bisa teriak kencang pada gol terakhir yang dicetak David da Silva. Satu gol yang bikin sakit hati Persipura. Dicetak sepuluh detik sebelum laga usai.

Sheffield United versus Manchester United juga seru. Siapa bisa mengira Sheffield unggul dua gol di awal babak pertama? Tapi siapa juga bisa menyangka ada tiga gol balasan dari pemain akademi United bersarang di gawang Sheffield? Pada akhirnya skor berakhir imbang 3 – 3 itu jadi akhir yang memuaskan bagi kedua tim. Suguhan pertandingan yang elok.

Laga lain seperti Arsenal kontra Southampton juga penuh kejutan. Mourinho, di laga awalnya bersama Totenham menang 3 – 2 atas West Ham United. Sayang saya tak sempat menonton City kontra Chelsea, tak punya peranti untuk menontonnya.

Sementara Leicester, masih top form unggul di kandang Brighton & Hove Albion. Atalanta kontra Juventus, punya sisi menarik, tapi ini Juventus. Liga Italia kurang menawarkan sensasi lebih. Timnya terlalu jomplang kualitasnya.

Dari liga Spanyol, Celta Vigo unggul di kandang Villareal. Saya cukup terkejut. Tapi, well, bola kan begitu ya. Juga jarang tonton liga Spanyol soalnya. Sejarang itu hingga di kepala masih ada stigma kalau Villareal ini klub bagus. Di bawah Barcelona, dikit.

Bundesliga, ada yang tonton laga TSG Hoffenheim VS FSV Mainz? Hoffenheim main di kandang, satu dari pemain Mainz dikartu merah, menguasai jalannya pertandingan, tapi kalah 1 – 5. Counter Attack ternyata begitu mengerikan dibanding Build Up serangan.

Ini rekap dan catatan saja. Saya akhir-akhir ini cuma ‘copy link to tweet lalu paste ke blog’ supaya ada update meskipun mager. Yuk mari.