Watafaka

Ujian terakhir mata kuliah Public Speaking semester lalu adalah melakukan praktik nyata public speaking di lobby kampus. Saat itu, sedang musimnya pendaftaran mahasiswa baru. Adrenalin terpacu beberapa kali lipat.

Sebuah ujian yang seru, dan menyenangkan tentu saja.

Self Portrait Public Speaking

Ada dua tema yang bisa dibawakan; pertama tema apapun yang ada ‘isinya’, kedua tema bebas ‘tanpa isi’. Saya pilih yang pertama.
Apa yang saya bawakan?

Cukup aneh untuk disampaikan karena materi saya adalah demotivasi diri. Jika Anda pernah ikut seminar Andri Wongso, saya membawakan materi dengan gaya yang bisa dibilang mirip 50℅. Saat memberi materi, saya banyak menggunakan kata ‘kasar’ untuk penekanan, selain untuk menghadirkan lebih banyak pendengar. Itu strategi saja.

Materi itu berjudul: Sosial Media dan Keremeh-temehan Hidup

Intinya adalah, seharusnya tiap individu menerima dirinya sesuai keadaan. Seutuhnya. Mulai dari fisik, pencapaian, usaha, materi dan lain-lain. Dan jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Bahwa kita, yang biasa-biasa saja juga harusnya bahagia. Meski tidak pernah profil kita diulas di koran, masuk acara televisi, dijadikan bahan referensi untuk suatu permasalahan atau untuk kebaikan masyarakat luas. Kita yang sederhana, sepi dari puja-puji.

Inti kedua adalah gunakan sosial media sebagaimana mestinya. Jangan terkesan bahwa kita menggunakan sosial media untuk ajang eksistensi diri. Sosial media untuk menunjukkan bahwa ‘ini lho hidup saya’.. untuk pamer dalam segala bidang. Untuk menampilkan yang sebenarnya bukan kita.

Karena saya kira, kebanyakan saat ini, menggunakan sosial media untuk mengompensasi diri. Yang remeh-temeh tadi tentunya.

Leave a comment

Filed under Journal