Solusi simpel punya perusahaan, saham!

Melihat orang terkaya di indonesia saat ini, yaitu keluarga Djarum. Mengapa keluarga yang kaya seperti itu, tidak membangun usaha baru sebagai pelengkap atas usaha rokoknya yang sudah ada? Djarum malah membeli perusahaan yg sudah jadi yaitu Bank BCA.

Mengapa Temasek holding (perusahaan Singapura) kurang sekali minat dalam membuat usaha baru dari nol, tapi malah asyik caplok atau membeli saham perusahaan lain yang sudah ada, khususnya di indonesia.

Mengapa Warren Buffet juga sama seperti Temasek dan barusan saja Warren Buffet membeli saham perusahaan saus yang berumur 144 tahun, HJ Heinz Co senilai Rp.224 Trilliun! Heinz merupakan induk perusahaan saus terkenal di indonesia yaitu saus tomat ABC.

Mengapa Lo keng Hong juga sama seperti Buffet yang asyik beli saham perusahaan yang sudah jadi, bukan mendirikan satu perusahaan baru dari awal?

Lihat Kentucky Fried Chicken (KFC), di kota saya, sejak saya kecil, saya suka sekali makan disana. Hahaha. Sampai membuat saya berangan-angan untuk punya KFC sendiri, namun apa daya, butuh modal milyaran. Saya juga suka minum kopi, ingin punya Starbucks. Namun apa daya?

Dengan saham dapat memberikan jawaban atas ketidakmampuan permodalan saya di sektor riil, karena disaham kita bisa memiliki perusahaan tersebut tanpa harus memiliki modal yang besar.

Pemikiran sederhananya adalah hanya dengan modal kecil namun bisa ikut memiliki perusahaan tersebut dan tidak perlu ikut dengan urusan ribet nya setiap bulan seperti: urusan membayar gaji karyawan, urusan stock barang, urusan tenaga kerja, urusan menekan cost produksi dan lain sebagainya, saya hanya perlu menjadi silent partner saja.

Dan disaham, jika terjadi keadaan yang buruk pada perusahaan maka sahamnya dapat dijual dalam sekejap, beda dengan bisnis riil yang sulit sekali jika kita ingin keluar dari bisnis yang kita bangun tersebut karena banyak urusan yang harus diselesaikan sebelum kita tutup.

Saya menikmati sekali postingan ini. Tahun 2013 penulis menulisnya. Klik di sini untuk utuh membaca. Membuat saya semakin semangat untuk serius mempelajari saham dan menyisihkan uang untuk investasi lebih banyak lagi.

Advertisements

Keabnormalan waria

Be a Man mengabaikan kualitas-kualitas lain untuk menjadi laki-laki, misalnya menjadi laki-laki yang penuh cinta kasih, merawat, mengedepankan win-win solution, mengedepankan kesetaraan daripada superioritas dan seterusnya.

Be a Man menilai waria sebagai sebuah abnormalitas sehingga harus dibenahi dan dinormalkan karena kalau tidak, akan membuat masyarakat menjadi rusak atas keabnormalan waria. Sehingga Be a Man tetap melihat waria sebagai sampah masyarakat yang harus dibersihkan. Sikap ini bila dibiarkan akan menumbuh suburkan sikap tidak toleran terhadap pilihan-pilihan hidup seseorang yang merupakan hak yang paling asasi.

Ini masih dari buku ‘Warna-Warni Lelaki’ oleh Nur Hasyim. Saya menuntaskannya disela membaca buku lain, ‘Analisis Bursa Efek’ karya Sjahrir, buku lawas terbitan Juni 1995.

Saat tulisan ini ditulis ada beberapa hal yang lewat dan sedikit penting. Pertama, Manchester United menang atas Fulham 4 – 1. Kedua, Manchester City pada akhirnya harus kalah (juga akhirnya) dari Chelsea 0 – 2. Ketiga, saya akhirnya deposit uang di Indodax, setelah sekian tahun hanya melihat dan mengamati saja. Keempat, melawan Leicester City, Tottenham harusnya menang.

Link Cepat: 6

  1. Yandi Mohammad, “Perda Pariaman Ancam Denda Waria dan LGBT“, 2018, Beritagar.
  2. Putra Permata Tegar Idaman, “Jumpa Lagi dengan Arsenal yang pernah Kita Kenal“, CNN Indonesia.
  3. Jun Mahares, “Wartawan Harus Baik, PSSI Sehat?“, CNN Indonesia. Kutipan menariknya: “Singkatnya, kalau tak mau dikritik, tak usah menjabat di PSSI. Kalau tak mau bekerja maksimal, jangan duduk di kursi empuk PSSI.”
  4. Sarah Durn, “What ‘Twilight’ Taught Us About Sex and Virginity“, 2018, Bust.
  5. Daniel Darmawan, “Makin Ngawurnya Cara Fintech Menagih Utang Picu Gerakan #AksiGagalBayar“, Vice Indonesia.

 

Pernah denger belum, azab bencong mati tertimpa ricecooker!

“Eh, kamu itu apa ndak pernah nonton tivi? Itu ada sinetron azab bencong mati tertimpa rice-cooker-nya sendiri?”

Ini hari yang menyenangkan. Kantor mengadakan kegiatan outbond. Sekaligus merupakan perayaan ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Direktur Eksekutif sedang bertugas, Direktur divisi saya pun demikian. Tapi, itu bukan jadi masalah, acara tetap berlangsung. Meriah. Meriah karena kehadiran teman-teman dari, saya bingung menyebutnya apa, ‘wanita yang terjebak dalam tubuh lelaki?’ atau ‘lelaki yang ingin jadi seorang wanita?’, saya kira, mereka baik dan fun orangnya.

Sebut saja Ajeng, mengungkapkan rasa terimakasihnya pada staf dari divisi Kesehatan Masyarakat khususnya, karena ia kini lebih aware dengan masalah kesehatan dirinya sendiri. Memang, salah satu fokus dari divisi ini adalah, pengurangan – kalau bisa menihilkan – jumlah virus HIV AIDS di kalangan mereka.

Sekitar 26 orang dibagi menjadi dua kelompok. Campur. Outbond adalah obat stres ampuh, saya kira, apalagi dengan mereka ini. Guyonannya itu asli, jauh dari guyonan yang biasa saya dengarkan.

“Eh, jangan begitu lho, aku lagi mens.” ucap Dewiq, yang nama aslinya sebut saja Doni.

Dan temannya menyahut, “Loh, emang kamu bisa mens? Kan laki.” Suasana cair. Staf mencemaskan saya dan satu rekan magang. Takut kami digoda. Padahal sudah dari tadi-tadi sebelum acara dimulai. Hahaha. Saya sih, biasa saja. Sikap tidak takut itu malah bikin mereka juga bersikap biasa saja, dalam artian ‘friendly’. Bukan biasa yang ‘menjauh’ dan ‘sinis’. Fun kok.

“Kamu udah pernah pegang payudara belum. Ini pegang punyaku. Gak papa.” tawar seorang kawan itu ke saya sambil tertawa lebar. Saya bingung mau apa. Untung temannya menyahut, “Gak enak ding, Rie. Enakan punya pacarmu.”

Si penawar tak mau kalah, “Ndak punya pacarmu belum tentu boleh. Punyaku boleh. Hahaha.” beberapa detik kemudian dia nyeletuk, “Loh, kok aku yang nafsu, ya?”.

Kami tertawa.

Saya sibuk bersenang-senang. Menikmati momen. Hingga foto dan video tak ada. Untung dari kantor ada yang bertugas dokumentasi. Saya akan minta filenya untuk kenang-kenangan.

Hari yang indah.

Kami mengobrol lama di BBM dan merasa dekat

Di SMA saya masih memutuskan untuk membohongi jati diri saya lagi dan itu cukup menyiksa. Suatu ketika ada seseorang laki-laki yang meminta pin BBM ku setelah kami baku-follow dan spamlikes di Instagram. Laki-laki itu cukup menarik dan dia tinggal sedaerah denganku. Setelah sekian lama ngobrol di BBM dan merasa dekat, kami memutuskan pacaran sembunyi-sembunyi tanpa diketahui dunia. Sialnya, teman sebangkuku di kelas membaca chatku bersama laki-laki itu, dan temanku itu kenal juga dengannya. Dia langsung jijik dan langsung menanyakan hubunganku dengan anak itu dan kubilang baik-baik saja dan jangan ikut campur. Tiap hari dia mengejekku tapi untungnya dia tidak memberitahu satu kelas kalau saya punya hubungan dengan seorang laki-laki. Suatu ketika, ia melakukan hal yang tidak kusangka. Saat teman-temanku yang lain mengejekku, ia maju membelaku dengan mengatakan, “Jangan ada ganggu Aslan sahabatku! Kalau ada ganggu atau mengejek, saya pukul wajahmu kalau perlu!!”

Di situ saya menyadari bahwa temanku yang sempat kusangka homofobik ternyata orang baik. Kalau dipikir-pikir, mungkin dia sempat bertingkah homofobik karena menyangka sikap itulah yang tepat dilakukan seorang “laki-laki sejati” terhadap laki-laki lain. Namun, sifat homofobik bukanlah sikap “laki-laki sejati” karena “laki-laki sejati” bukanlah laki-laki yang suka menindas dan meremehkan orang lain untuk merasa dirinya lebih baik.

Dikutip dari kisah melela Aslan di situs Melela, “Cerita Aslan dan Homofobia“.

Tidak, laki-laki tidak ngerumpi

Pertanyaannya adalah ketika laki-laki tidak ngerumpi atau tidak mengeluhkan tentang kesedihan, kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan, apakah memang mereka tidak memiliki perasaan-perasaan itu? Lalu apakah laki-laki memang tidak memerlukan ruang untuk mewadahi perasaan-perasaan itu? Untuk menjawab beberapa pertanyaan ini saya ingin memaparkan pengalaman saya ketika banyak berinteraksi dengan laki-laki baik untuk kepentingan penelitian atau yang lain.

Sejauh pengamatan saya sebenarnya tidak sedikit laki-laki yang memiliki kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan, di antara sering mereka cemaskan adalah kecemasan akan ketidakmampuan untuk memenuhi kriteria ideal laki-laki. Pada satu sisi mereka bangga menjadi laki-laki karena laki-laki memiliki tanggungjawab yang besar, menjadi pemimpin, penyangga tiang ekonomi keluarga, pelindung bagi keluarga, namun pada sisi yang lain ada kecemasan apakah kriteria laki-laki ideal itu dapat dipenuhi. Banyak di antara mereka yang merasa tidak laki-laki karena berpenghasilan lebih sedikit dari istri. Mereka merasa tidak laki-laki ketika secara fisik tidak tinggi dan atletis, atau mereka merasa kurang lengkap karena tidak dapat menjadi pemimpin dalam rumah tangga.

Perasaan-perasaan ini sebenarnya membutuhkan ruang untuk pelepasan, karena bila tidak akan menjadi tumpukan dan akan menimbulkan masalah-masalah emosi pada laki-laki. Namun celakanya atas nama norma kelelakian, laki-laki tidak memiliki cukup ruang untuk melepaskan masalah emosi ini. Maka menurut penulis penting untuk memulai membuka ruang-ruang bagi laki-laki untuk membincangkan masalahnya sendiri termasuk masalah kecemasan, ketakutan dan kekhawatiran tanpa harus takut disebut ngerumpi.

Ini dari buku ‘Warna-Warni Lelaki’ karya Nur Hasyim.