Humor artifisial

Jika orang Melayu kaya cukuplah untuk sekali ke Tanah Suci. Umpama miskin, selalu merasa dirinya beruntung. Maka tak pernah ada yang melarat. Jika baik, tanggung, jika jahat, tak kan lebih dari bromocorah pencuri setandan pisang, itu pun pisang mentah. Jika pintar jadi carik desa, jika bodoh bahkan tak bisa membedakan huruf B dan M. Tak tahu kalau Purwakarta dan Purwokerto itu berbeda.

Komedi orang Melayu Dalam bersifat artifisal dan politikal. Karena itu, salah satu bentuk klasik humor mereka adalah membual.

Mereka senang sekali membualkan bahwa semua orang penting dikenalnya, semua artis sobatnya, bahwa menteri A itu kerabatnya. Padahal, hanya karena ia bertetangga dengan ipar menteri itu dan ayam mereka pernah ketahuan kawin. Sang menteri sendiri tak mengaku iparnya yang berengsek itu sebagai saudara. Harapan si pembual tentu saja agar ia disegani karena banyak mengenal pejabat. Inilah yang kumaksud sebagai humor artifisial-humor palsu-dan humor politikal.

[Andrea Hirata, ‘Maryamah Karpov’]

Hitam putih

Dunia ini hitam putih, Burlian. Lebih banyak abu-abunya. Jarang ada orang yang hatinya hitam sekali, dan sebaliknya juga susah mencari yang hatinya sempurna putih. Semua orang punya kelemahan, dan karena itulah seringkali kita tidak selalu diberikan pilihan terbaik. Setiap kali kita memilih pemimpin, sejatinya kita bukan memilih orangnya. Sejatinya itu hanya soal apakah kita mau dipimpin si A, si B atau pilihan lainnya.

[Tere Liye, ‘Burlian’]

Menilai

Namun tak dapat dipungkiri, dari lingkungan sosial semacam itu, aki telah belajar banyak sekali, antara lain belajar toleransi. Di Eropa, untuk kali pertama aku mendapati diriku terpojok di sudut peradaban sebagai minoritas dan sungguh pahit keadaan ini. Sepanjang hidup di Tanah Air, demografiku adalah representasi mayoritas. Aku seorang Islam, maka aku mayotitas. Keluargaku miskin, karena itu aku juga mayoritas. Aku mayoritas karena begitu banyak hal, misalnya aku orang Indonesia asli, berbadan pendek, hetero, sering ditipu politisi, menyenangi lagu dangdut, dan berwajah orang kebanyakan. Dengan mentalitas semacam itulah aku dibesarkan. Namun di Eropa, aku terkejut melihat cara orang melihatku, lalu mereka memandangku, dan yang mereka pandang adalah asal muasalku, caraku berbicara, apa yang kumakan, apa yang kusembah, dan apa yang seolah akan kuambil dari mereka. Seluruh pandangan padaku untuk satu tujuan: menilaiku.

[Andrea Hirata, ‘Maryamah Karpov’]

Debat Pertama Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta, Ahok – Djarot unggul

Tentu kali ini saya menulis tentang debat pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Dalam pandangan saya, pasangan nomor urut dua, Ahok – Djarot lebih unggul dibanding dua pasangan lain. Ini terkait dengan argumentasi yang kuat dan lebih realistis. Tidak terlalu muluk-muluk, tapi lebih masuk di pemahaman saya. Misal, persoalan memindahkan warga yang tinggal di bantaran sungai ke rumah susun yang selalu dipandang menggusur, Ahok memberi penjelasan yang baik, bahwa membiarkan mereka tetap tinggal di pinggir sungai tidak edukatif. Dari pandangan saya, relokasi ini berdampak baik untuk menanggulangi banjir agar normalisasi sungai tercapai, sungai lebih nyaman dipandang dan kualitas hidup warga yang direlokasi meningkat. Tentu sisi buruk dari relokasi ini terasa bagi warga yang non-KTP Jakarta. Kalau itu jangan ditanya lagi.