Swasembada makan dari sawah sendiri

Kamis kemarin, padi di sawah milik simbah kakung saya panen. Karena simbah kakung telah meninggal dan ayah saya kerja di luar pulau jawa, saya yang ikut nimbrung masa-masa panen itu. Sawah itu, dalam sekali panen padi menghasilkan 27 karung gabah. Yang setengahnya diambil sebagai upah buruh tani yang menggarap sawah. Beberapa karung lain diberi kepada yang membantu panen, karena panen juga melelahkan. Di desa, sudah ada alat penanam padi plus pemanen padi sebenarnya. Tapi belum masif penggunaannya. Makanya, padi di sawah itu dipanen manual. Dulu-dulu, sawah itu ditanami macam-macam. Apa yang ditanam adalah hasil diskusi antara simbah kakung dengan buruh penggarap. Saat ini, sawah itu khusus ditanami padi sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sawah itu ada beberapa petak. Sebab itu, tiap tahunnya keluarga saya, yang terdiri dari empat orang saja tidak perlu membeli beras. Dalam setahun padi bisa ditanam empat kali. Bila beras habis, gabah di lumbung diselep jadi beras. Kami makan dari hasil sawah sendiri.

Advertisements

Wawancara Andhika Diskartes

Bagaimana awalnya Anda bisa terjun dalam dunia investasi?

Ketertarikan saya dengan dunia investasi sudah sejak lama, lulus SMA lebih tepatnya (2005). Kemudian ketika masuk bangku kuliah, saya mulai berlangganan majalah-majalah bidang ekonomi, investasi, perbankan. Tentu saja harus menyisihkan uang bulanan saya. Menginjak tahun kedua, saya menggunakan uang yang seharusnya bayar kos setahun, untuk membeli reksadana pertama. Setelah 3 bulan langsung dijual, karena harus bayar kos.

Berapa ‘modal’ awal saat pertama kali berinvestasi dan kesan pertama saat membeli saham pertama?

Dulu saya lulus kuliah ketika usia 21 tahun, kalau tidak salah ada batas usia minimal untuk beli saham kala itu. Atau ada hal lain yang ga bisa buat saya daftar, saya agak lupa.

Jadinya saya hanya bisa ikut seminar gratis yang diadakan di BEJ pas weekend. Kemudian ketika usia sudah 23, saya beli saham pertama kalinya. Saham-saham properti. Kesan beli saham pertama? Deg-degan, takutnya duit bakal hilang. Untung aman-aman saja, ga dibawa kabur perusahaan efek.

Modal pertama saya pas itu adalah 15 juta, ga berapa lama ternyata untung jadi 17,18, 19, hingga tembus 20 juta. Sayang ga bertahan lama karena harus mengalami pahitnya belajar di pasar modal.

Kalau masih jadi mahasiswa yang punya tabungan Rp 10.000.000, mana yang lebih baik; beli saham macam Warren Buffet, trading saham atau valas, beli reksadana atau usaha offline – semacam jual batagor atau bikin warung kopi?

Sudut pandang orang beda-beda. Saya pernah menjalankan semua opsi yang Anda tanyakan, even jual martabak. Untuk saat ini, bisnis yang paling cocok dengan saya adalah investasi saham. Mahasiswa adalah titik kritis dengan realitas dunia. Saya tidak akan menyarankan Anda untuk mencoba satu hal, tapi mencoba semuanya adalah pilihan terbaik. Toh dengan sepuluh juta memungkinkan kok. 2 juta untuk trading, 3 juta untuk investasi, 5 juta usaha offline. Beres kan?

Saya – ini pengalaman pribadi – takut untuk trading lagi, waktu itu mainnya valuta asing di IQ Option, Rp. 3.000.000 lantas trauma. Ada tanggapan soal ini? Kapan waktu yang tepat saat memulainya?

Valas adalah mata uang, bukan tempat growing aset, beda banget dengan saham, bahkan beda dengan mata uang digital yang tumbuh based on project.

Saya mempelajari valas, dan juga sempat masuk ke dalamnya, tapi tidak ketemu pola fundamental, bahkan dari sisi teknikal juga sangat susah dihitung. Oleh karena itu, saya sarankan menjauh dari valas.

Tapi jangan lantas trauma di tempat lainnya, masa mahasiswa trauma gara-gara gagal sekali? Dinginkan kepala Anda, dan kalau sudah tenang, bisa dilanjut lagi untuk memulai trading lagi.

Apakah investasi itu untuk semua orang?

Tentu saja.

Seperti apa tanggapan Bang Kartes tentang yang ditulis Kiyosaki tentang Cashflow Quadrant?

Risiko selalu berbanding lurus dengan potensi keuntungan. Sama halnya dengan kuadran Kiyosaki, dimana semakin ke kanan, akan semakin sukses. Namun tentu saja butuh modal kalau mau jadi investor atau business owner, kecuali Anda seorang putra mahkota. So, sebelum ada di kuadran kanan, mumpung masih muda carilah pengalaman dan belajar memahami pasar dengan menjadi employer. Not bad kok.

Saran seperti apa yang bisa Bang Kartes berikan agar mahasiswa lebih melek terhadap investasi dan manajemen keuangan?

Kalau kamu demen menghasilkan duit, manajemen keuangan adalah ilmu paling tepat. Itulah yang membuat saya senang belajar manajemen keuangan ketika kuliah, meski nilai lainnya gak bagus-bagus amat. Tapi nilai manajemen keuangan saya, salah satu yang bagus di antara orang lain.

Dunia investasi sudah sangat bergeser, sehingga mahasiswa sekarang akan menemui persoalan serius ketika lulus kelak. Jaman kakek nenek, investasi wajarnya ya tanah atau rumah. Kemudian jaman saya, saham sudah sangat disambut baik. Sementara jaman kalian, investasi aset digital ‘mungkin’ akan mengambil alih peranan. Ready?

Setelah berinvestasi dan trading saham, yang disitu uang alirannya deras sekali, apa perbedaan pandangan Bang Kartes dulu – saat belum trading – dibanding sekarang mengenai uang?

Gak berubah, meski mempelajari uang, it’s just a game. Don’t think too much. Spend wisely, have fun, and make money. Again. Jangan terlalu serius, meski kata Warren Buffet, investasi yang benar adalah membosankan, tapi sayang juga kalau hidup ini dibikin bosan.

Seperti apa bentuk uang di masa depan? Apa uang kertas – konvensional – akan bertahan? Berapa lama?

Pasti bertahan, bagaimanapun dunia secara keseluruhan masih jauh dari kata canggih. Selama negara tertinggal masih ada, maka uang kertas akan tetap ada. Sementara uang digital mulai mengambil tempat. Nah seninya berarti mengkombinasi kedua mata uang tersebut.

Seperti apa manajemen keuangan Bang Kartes tiap bulannya?

Prioritas saya adalah investasi di saham dan kripto. Saya mengalokasikan minimal 50% setiap bulannya. Sisanya, digunakan untuk kegiatan sehari-hari, termasuk have fun, dan menjalankan bisnis blog.


Andhika Diskartes adalah investor dan trader saham. Ia memiliki blog yang membahas seputar keuangan, saham, uang virtual, dan reksadana. Wawancaranya sendiri via email.

Menggendong skripsi turun dari Punthuk Setumbu

Pagelaran seni yang menyatukan dua literasi, buku dan musik, Bank BRI Mocosik Festival 2018 resmi dibuka pada hari ini, Jum’at (20/4) di Jogja Expo Center. Selain pameran buku dari berbagai penerbit, Bank BRI Mocosik 2018 menyedot penonton lewat aksi-aksi musisi yang hadir.

Di hari pertama ini, Bank BRI Mocosik 2018 dibuka dengan penampilan dari Pure Saturday dan Melancholic Bitch. Sejak siang, begitu pintu dibuka, venue langsung diserbu pecinta musik dan buku. Panggung utama pun langsung menjadi tujuan utama pengunjung karena hadirnya band asal Bandung, Pure Saturday.

Itu dari Kapanlagi [Link].

Sementara seorang teman berujar, “Tiket 75 ribu bisa nonton konser, talkshow sastrawan, dapat buku gratisan yang bebas pilih sendiri. Jos.” Saya gagal nonton Melbi lagi. Kali ini gagalnya dobel, karena sastrawan yang hadir adalah Sapardi Djoko Darmono. Astaga. AriReda juga nama yang lain yang menjadi pengisi acara Mocosik Festival itu.

Sabtu pagi hingga sore, saya dan seorang kawan yang spesial juga ke Jogja, melewati saja. Tujuan utamanya adalah Gereja Rhema. Borobodur dan Mendut, lewat saja. Kaki kami menginjak pertama di Junkyard Autopark, yang sedikit kami sesali – ternyata kecil. Kedua, ke Punthuk Setumbu, lokasi AADC 2. Mengobrol dan foto-foto. Paling terakhir, kami melanjut perjalanan ke Gereja Ayam.

Kami sampai di Gereja Ayam akhirnya dari Punthuk Setumbu. Jalan kaki yang melelahkan. Tapi tidak masuk, karena ternyata, pengunjung yang datang sedang padat. Kami urung. Kami balik ke Setumbu dan pulang. Kisah menggendong tangga menurun ke lokasi parkir harus ditulis di sini. Si kawan yang sedang skripsi harus tahu badannya berat, mungkin ketambahan beban pikirannya itu.

Berikut beberapa foto dari lokasi wisata yang kami kunjungi, dari pengguna Instagram.

Pitik or Ayam 🐣🐔

A post shared by Aulia istinganah (@auliaistinganah) on

Dulu, universitas memiliki sebuah prestise khusus

Jika kemiskinan sosial masa lampau memproduksi sistem-sistem yang menakjubkan sebagai kompensasi dari sejarah (agama-agama), mahasiswa  dalam kemiskinannya yang terpinggirkan, tak dapat menemukan pelipur laranya selain imaji-imaji paling usang dari kelas borjuis, ejekan-ejekan yang merupakan pengulangan dari segala produk yang teralienasi.

Sebagai makhluk yang ideologis, mahasiswa Perancis selalu hadir terlambat. Segala nilai dan antusiasme yang merupakan kebanggaan dunia mereka yang sempit, telah sejak lama dikutuk oleh sejarah sebagai sesuatu yang menggelikan dan ilusi-ilusi yang tak tertahankan.

Dahulu kala, universitas memiliki sebuah prestise khusus; mahasiswa menjadi yakin bahwa mereka beruntung karena diterima di sana. Tapi mereka sangat terlambat. Pendidikan mekanikal dan spesialisasi telah mengalami degradasi yang parah (dalam kaitannya dengan tingkat kultur borjuis secara umum) sebagaimana juga tingkat intelektualitasnya, karena sistem ekonomi modern menuntut mahasiswa-mahasiswa yang diproduksi secara massal, yang telah dibuat sehingga tak mampu lagi berpikir. Universitas menjadi sebuah organisasi pembodohan yang institusional; “kultur tinggi” sendiri telah didegradasikan dalam ban berjalan di pabrik-pabik untuk mencetak profesor. Tetapi para mahasiswa tidak sadar akan hal ini; mereka tetap mendengarkan dosen-dosennya dengan penuh respek, dengan sungguh-sungguh meniadakan segala semangat kritis yang dengan demikian membenamkan diri mereka ke dalam ilusi mistis tentang menjadi seorang “mahasiswa”, seseorang yang dengan sangat serius menekuni hal-hal yang juga serius, dengan harapan bahwa profesor mereka pada akhirnya akan memberikan kebenaran sejati dunia pada mereka. Hingga saat tersebut menjadi sebuah menopause bagi semangat-semangat yang pernah ada. Masyarakat revolusioner masa depan secara alamiah akan mengutuk segala ruang-ruang ceramah dan kelas kelas sebagai sesuatu yang berisik, polusi verbal. Mahasiswa akan menjadi sebuah lelucon yang paling buruk

Tulisan di atas dari Forum Mahasiswa Libertarian Salatiga, berjudul “Tentang Kemiskinan Hidup Mahasiswa”. Saya mendapatkannya dari situs yang saya lupa namanya dalam bentuk PDF. Membaca ‘Madilog’ ternyata butuh selingan literatur lain sebagai rehat.

Untung ada penerbit rumahan – bukan murahan

Warning: “Bagaimana suka dan dukanya punya penerbit sendiri?”

Yusi Avianto Pareanom: “Kendali baik soal konten atau keputusan bisnisnya memang lebih besar, tapi tenaga yang dikeluarkan juga jauh lebih besar dan kadang-kadang gemas sendiri. Seringkali aku berharap punya dana lebih untuk menerbitkan buku lebih banyak. Dan kadang-kadang—bukan kadang sih, selalu—umur buku di toko buku mainstream itu terlalu pendek. Ada buku-buku yang terlambat panas menurutku yang sebenarnya menarik untuk dibaca, tapi udah keburu hilang dari rak. Untungnya sekarang selain ada penerbit rumahan—bukan murahan lho—ada juga teman-teman yang membantu jualan lewat toko buku komunitas atau toko buku online. Menurutku itu sangat membantu dan bisa jadi simbiosis mutualisme.” [Link]

Be a tourist in my own city

I also thought travel was the answer to a fulfilling life. And after living overseas a few times, and travelling a lot — I felt all those feelings you mentioned.

And finally realised daily life anywhere can be as exciting, new, fun, and adventurous as we make it. We can meet new people, find new places to eat, have exciting experiences — if we make the effort.

One of my favourite things to do is be a tourist in my own city.

Mindfulness has also helped me appreciate life more. To be happy with less rather than more. To understand life isn’t always rosy — but that’s what makes it so awesome.

A comment by Chyntia Marinakos from the previous article.